BOYOLALI, KLIKSOLONEWS - Kematian massal ikan di Waduk Cengklik, Boyolali, pada Kamis 20 Maret 2025, menimbulkan kerugian bagi para peternak ikan di daerah tersebut.
Kejadian ini mengakibatkan kerugian besar bagi peternak ikan karamba jaring apung (KJA) di Waduk Cengklik, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp535 juta.
Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali, Nurul Nugroho, kematian ikan dalam jumlah besar ini disebabkan fenomena upwelling.
"Fenomena ini terjadi saat air dari lapisan bawah naik ke permukaan, membawa serta gas beracun seperti hidrogen sulfida (H2S) dan metana (CH4), yang mengurangi kadar oksigen dalam air dan menyebabkan ikan mati," kata Nurul Nugroho kepada media, Jumat 21 Maret 2025.
Tiga kelompok peternak ikan terdampak paling parah dalam peristiwa ini:
- Kelompok Tirto Panguripan mengalami kerugian terbesar dengan lebih dari 15 ton ikan mati, senilai sekitar Rp420 juta.
- Kelompok Sumber Rejeki kehilangan sekitar 1,1 ton ikan dengan kerugian sekitar Rp30,8 juta.
- Kelompok Ngargorejo kehilangan sekitar 3 ton ikan dengan kerugian sekitar Rp84 juta.
Setelah menerima laporan, Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali segera menurunkan tim ke Waduk Cengklik untuk mengevaluasi kualitas air dan mencegah dampak lebih lanjut.
"Evakuasi ikan mati dilakukan dengan berbagai cara, seperti dikubur, diberikan kepada peternak lele, dan sebagian kecil dijual jika masih layak konsumsi," ucapnya.
Sebagai bentuk respons, dinas akan memberikan bantuan berupa benih dan pakan ikan kepada peternak yang terdampak guna meringankan beban mereka dan membantu pemulihan usaha perikanan mereka.
Ketua Paguyuban KJA Tirta Panguripan, Supriyanto, mengungkapkan bahwa mayoritas ikan yang mati adalah jenis kakap merah, dengan beberapa ikan koi dan lele juga ikut terdampak.
"Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi peternak karena terjadi menjelang masa panen, terutama menjelang bulan Ramadan dan Lebaran, ketika permintaan ikan meningkat tajam," kata Supriyanto.
Ke depan, para peternak berharap adanya solusi jangka panjang dari pemerintah, termasuk penyediaan teknologi mitigasi dan bantuan yang lebih berkelanjutan.
"Kami menunggu langkah konkret dari dinas setelah janji bantuan yang sudah disampaikan," ujar Supriyanto.
Supriyanto pun menjelaskan kronologi kejadian tersebut yang mana terjadi pada Rabu 19 Maret 2025 sore. Ia melihat ikan-ikannya tampak tidak selera makan dan minim gerak.
“Dari situ perasaan sudah tidak nyaman. Dan betul pada Kamis (sehari setlahnya) pagi ikan-ikan itu pada mati semua,” kata Supriyanto.
Setidaknya dalam paguyuban yang dipimpinnya itu ada 21 peternak yang mengalami kerugian. Fenomena upwelling bukanlah kejadian baru, tetapi dampaknya bisa semakin parah jika tidak ada upaya mitigasi yang tepat.(KS01)