SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Tahun 2024 meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.
Wali Kota Surakarta, Teguh Prakosa, mengungkapkan beberapa evaluasi telah dilakukan untuk mempersiapkan program prioritas pada tahun 2025, bersamaan dengan transisi kepemimpinan yang akan berlangsung Maret mendatang.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Pemkot Solo adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama dalam pengentasan stunting.
Teguh mengungkapkan, meskipun alokasi anggaran untuk penanganan stunting terhitung besar, hasil penurunan kasus pada 2024 masih belum memuaskan.
“Dengan anggaran besar, seharusnya penurunan angka stunting bisa lebih signifikan. Ini menjadi perhatian penting, karena kualitas SDM adalah fondasi masa depan Kota Solo,” ujar Teguh.
Pada 2023, tercatat 1.050 kasus stunting di Solo. Hingga semester pertama 2024, angka tersebut menurun menjadi 923 kasus. Namun, jumlah anak berisiko stunting masih berada di kisaran 3.000 kasus, menunjukkan perlunya langkah yang lebih efektif dalam program penanganan.
Untuk 2025, anggaran pengentasan stunting meningkat Rp 15 miliar dibanding tahun sebelumnya, menjadi total Rp 105 miliar. Peningkatan ini diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting secara signifikan.
Teguh menegaskan bahwa keberlanjutan program pembangunan akan tetap menjadi fokus utama. Pemkot Solo telah menyusun Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029 sebagai pedoman lima tahun ke depan.
“Program yang baik harus dilanjutkan, terutama yang berkaitan dengan pengembangan SDM, kesehatan, dan pendidikan. Semoga masa transisi kepemimpinan ini tidak menjadi kendala bagi keberlanjutan pembangunan,” imbuh Teguh.
Selain masalah SDM, Teguh juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk memastikan kelancaran berbagai program prioritas, termasuk infrastruktur dan pelayanan publik.
Pada Maret 2025, Kota Solo akan memiliki Wali Kota baru yang diharapkan dapat meneruskan program-program yang telah berjalan dengan baik. Teguh berharap kepemimpinan baru mampu membawa inovasi sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Harapannya, pembangunan tetap berjalan sesuai rencana, dengan prioritas pada kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi yang solid dengan provinsi dan pemerintah pusat juga harus terus ditingkatkan,” pungkas Teguh.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3AP2KB Kota Solo, Purwanti, menjelaskan bahwa tambahan anggaran sebesar Rp 15 miliar untuk penanganan stunting merupakan bentuk komitmen Pemkot dalam mengatasi masalah SDM.
“Tambahan anggaran ini diharapkan bisa mempercepat upaya penurunan angka stunting dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujar Purwanti.
Dengan dukungan anggaran yang meningkat dan perencanaan yang matang, Pemkot Solo optimis tantangan pada sektor SDM dapat diatasi. Transisi kepemimpinan menjadi momentum penting untuk melanjutkan visi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat Kota Solo.
Tahun 2025 menjadi titik awal perjalanan baru, di mana tantangan masa lalu menjadi pelajaran, dan harapan baru tumbuh bersama kepemimpinan yang segar.