nasional

Gedung Pakuwon Salatiga Nasibmu Kini: Saksi Sejarah dari Perjanjian Salatiga, Pangeran Sambernyawa, hingga Lahirnya Mangkunegara

KS1
Sabtu, 28 Desember 2024 | 23:21 WIB
Gedung Pakuwon Salatiga Nasibmu Kini: Saksi Sejarah dari Perjanjian Salatiga, Pangeran Sambernyawa, hingga Lahirnya Mangkunegara. (KlikSoloNews/dok VoN-Mikhael)

SALATIGA, KLIKSOLONEWS.COM - Gedung Pakuwon Salatiga nasibmu kini, saksi bisu sejarah dari Perjanjian Salatiga, Pangeran Sambernyawa, hingga lahirnya Mangkunegara.

Dilansir VoiceofNusantara, jejaring KlikSoloNews, mengangakt jejak sejarah Nusantara di salah satu kota di Jawa Tengah, yakni Kota Salatiga.

Salah satu bangunan bersejarah yang patut mendapatkan perhatian adalah Gedung Pakuwon, atau yang dikenal juga sebagai Pendapa Pakuwon. Bangunan ini merupakan saksi bisu Perjanjian Salatiga yang kini terlupakan dan tak terurus.

Kota Salatiga, yang terletak 49 kilometer di sebelah selatan Kota Semarang dan 52 kilometer di sebelah utara Kota Surakarta, memiliki hawa sejuk yang menjadikannya kota persinggahan ideal di jalur penghubung antara Kabupaten Semarang dan Kota Surakarta.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 193.525 jiwa hingga akhir tahun 2021, kota ini menyimpan banyak kisah penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Salah satu nukilan sejarah yang menonjol di kota ini adalah Perjanjian Salatiga, yang ditandatangani pada 17 Maret 1757.

Gedung Pakuwon menjadi saksi bisu peristiwa penting tersebut. Perjanjian ini disepakati untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul akibat Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Perjanjian Salatiga: Membelah Surakarta

Gedung Pakuwon yang terletak di sebelah selatan Lapangan Pancasila, tepatnya di Jalan Brigjen Sudiarto, memiliki nilai sejarah yang mendalam.

-


Pada 17 Maret 1757, Perjanjian Salatiga ditandatangani antara Pangeran Sambernyawa, yang juga dikenal sebagai Raden Mas Said, dengan Pemerintah Kolonial Belanda.

Isi utama perjanjian tersebut adalah pembagian wilayah Surakarta menjadi dua bagian, yaitu Kasunanan dan Mangkunegara.

Perjanjian Salatiga menjadi solusi konflik perebutan kekuasaan yang melibatkan Kesultanan Mataram.

Dalam kesepakatan tersebut, Hamengkubuwono I dan Pakubuwono III melepaskan sebagian wilayahnya kepada Pangeran Sambernyawa, yang kemudian diakui sebagai penguasa Mangkunegara. Perjanjian ini menandai berakhirnya konflik berkepanjangan dalam Kesultanan Mataram.

Gedung Pakuwon yang Kini Memprihatinkan

Dahulu, Gedung Pakuwon atau Pendapa Pakuwon berfungsi sebagai tempat tinggal Bupati Salatiga, yang pada masa Kerajaan Mataram disebut sebagai akuwu.

Gedung ini menjadi simbol administratif sekaligus pusat kekuasaan lokal. Namun, kondisi bangunan ini kini sangat memprihatinkan. Halamannya dipenuhi rumput liar dan sering dijadikan area parkir bagi pengunjung luar kota yang menikmati suasana Alun-alun Salatiga atau Lapangan Pancasila.

Pemilik bangunan menyatakan bahwa keterbatasan biaya menjadi alasan utama tidak terawatnya Gedung Pakuwon. Bangunan ini, yang seharusnya menjadi kebanggaan sebagai warisan sejarah, perlahan kehilangan pesonanya akibat kurangnya perhatian dan perawatan.

Sebagai bagian dari Bangunan Cagar Budaya (BCB), Gedung Pakuwon memiliki nilai budaya dan edukasi yang tinggi.

Bangunan ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjanjian penting dalam sejarah Jawa, tetapi juga mencerminkan identitas dan perjalanan panjang Kota Salatiga.

Pelestarian bangunan bersejarah seperti Gedung Pakuwon membutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta.

Dengan sinergi yang baik, restorasi dan perawatan dapat dilakukan untuk menjaga keaslian dan keindahan bangunan ini. Langkah-langkah konkret seperti alokasi dana, kampanye kesadaran sejarah, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya dapat menjadi solusi jangka panjang.

Bangunan seperti Gedung Pakuwon seharusnya tidak hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai inspirasi dan kebanggaan untuk masa depan. Warisan sejarah ini layak untuk terus dijaga dan dihormati sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.(KS01)

Tags

Terkini