SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Calon Gubernur Jawa Tengah nomor urut 01, Andika Perkasa, menganggap tingginya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan dalam berbagai survei sebagai hal yang positif.
Dalam diskusi bersama generasi muda di Almamater Coffee, Kamis 21 November 2024, ia menilai hal ini mencerminkan masyarakat Jawa Tengah lebih kritis dalam memilih pemimpin.
“Mereka yang belum memutuskan punya alasan masing-masing. Ini menunjukkan mereka ingin menunggu program kerja para calon atau mungkin debat terakhir. Ini sikap yang baik karena mereka mengambil keputusan dengan cermat,” ungkap Andika.
Andika menyatakan bahwa timnya tetap berkomitmen pada transparansi dalam menyampaikan visi-misi tanpa membidik pihak tertentu. Menurutnya, hal ini penting agar pemilih dapat menentukan pilihannya secara adil dan tanpa paksaan.
“Kami tampil apa adanya, tidak membidik siapa pun. Harapannya, mereka menilai secara adil dan menjatuhkan pilihan tanpa paksaan,” tegasnya.
Terkait isu politik, seperti dukungan Presiden Jokowi kepada kubu lawan atau keputusan Bawaslu Jawa Tengah soal video dukungan Presiden Prabowo Subianto, Andika merespons dengan santai. Ia menyerahkan proses tersebut kepada otoritas terkait dan memilih fokus pada program kampanye.
Dalam pertemuan itu, Andika yang didampingi oleh pasangannya, Hendrar Prihadi (Hendi), juga membahas peran pemuda dalam membangun ekonomi Jawa Tengah.
Ia menekankan potensi besar generasi muda yang telah terbukti bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional, melalui inovasi teknologi dan startup.
“Anak muda adalah penggerak ekonomi. Potensi mereka besar, dan mereka sudah membuktikan bisa bersaing,” ujar Andika.
Ia mengusulkan insentif khusus bagi usaha yang memberdayakan perempuan, melestarikan lingkungan, atau mendukung penyandang disabilitas. Andika juga menyoroti pentingnya peran Bank Jawa Tengah dalam mendukung UMKM agar lebih berkembang.
Di bidang budaya, Andika mengakui bahwa indeks pembangunan budaya Jawa Tengah masih perlu ditingkatkan, terutama dibandingkan Yogyakarta dan Bali. Salah satu idenya adalah menjadikan ruang publik, seperti restoran dan hotel, sebagai tempat pertunjukan seni secara berkala.
“Ini tidak hanya mengangkat nilai budaya, tapi juga mendorong ekonomi kreatif,” ujarnya.
Hendi menambahkan bahwa memberdayakan seniman jalanan juga penting untuk menciptakan ruang publik yang hidup. Ia berbagi pengalaman dari Semarang, di mana pengamen diatur untuk tampil di lokasi tertentu agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat.
Dengan visi inklusif yang melibatkan semua elemen masyarakat, Andika dan Hendi optimistis mampu membawa Jawa Tengah menuju kemajuan. Mereka menargetkan provinsi yang berbudaya, berkeadilan, dan memiliki perekonomian yang kuat.
“Kami percaya bahwa dengan melibatkan semua pihak—pemuda, seniman, pelaku UMKM, hingga komunitas masyarakat—Jawa Tengah bisa menjadi provinsi yang maju dan berdaya saing,” tutup Andika. (KS01)