nasional

Menko Bidang Pangan Respons Polemik Kebijakan Pembatasan Penyerapan Susu Mentah di Boyolali

KS1
Rabu, 13 November 2024 | 15:25 WIB
Menko Bidang Pangan Respons Polemik Kebijakan Pembatasan Penyerapan Susu Mentah di Boyolali. (KlikSoloNews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), memberikan tanggapan terkait polemik kebijakan pembatasan peneyrapan susu mentah yang terjadi di Kabupaten Boyolali.

Polemik ini mencuat setelah peternak sapi perah dan pengepul susu mengeluhkan adanya pembatasan kuota pengiriman susu ke pabrik dan Industri Pengolahan Susu (IPS), yang membuat mereka terpaksa membuang susu hingga puluhan ton atau menggunakannya untuk mandi.

Isu semakin panas setelah muncul kabar bahwa pabrik dan IPS di Boyolali berencana mengimpor susu dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan produksi mereka.

Menanggapi hal ini, Zulhas mengaku telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Zulhas menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan kementerian terkait, termasuk Kementerian Dalam Negeri, untuk mengutamakan produk pangan dalam negeri terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan impor.

"Kalau produksi dalam negeri sudah tercapai semua, baru impor," ujar Zulhas dalam keterangan persnya usai bertemu Jokowi di kediaman Sumber, Kota Solo, Rabu 13 November 2024.

Zulhas juga menjelaskan pemerintah akan memberikan kuota impor hanya jika produksi dalam negeri tidak dapat diserap oleh industri.

"Jadi kalau dalam negeri tidak diserap oleh pelaku industri, maka impornya kita akan kasih kuota," tambahnya.

Sebagai bagian dari upaya untuk mendukung industri susu lokal, Zulhas menegaskan bahwa pelaku industri wajib untuk membeli produk susu dalam negeri terlebih dahulu sebelum beralih ke impor. "Wajib membeli dulu dari produk dalam negeri kita. Setelah itu baru impor," jelas Zulhas.

Zulhas juga menyoroti pentingnya kualitas susu yang dihasilkan oleh peternak dalam negeri. Ia menegaskan bahwa kualitas susu harus terus diperbaiki agar bisa memenuhi standar yang diharapkan oleh industri.

"Tentu diperbaiki. Kalau kualitasnya buruk kan nggak baik juga," ujarnya, mengingat kualitas yang buruk dapat berdampak negatif terhadap reputasi produk dalam negeri di pasar.

Dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh pemerintah, Zulhas berharap permasalahan ini bisa segera teratasi, dan produksi susu dalam negeri dapat lebih maksimal untuk mendukung kebutuhan industri pengolahan susu di dalam negeri.

Diberitakan sebelumnya, ratusan peternak sapi perah, peloper, hingga pengepul susu sapi di Kabupaten Boyolali, menggelar aksi protes dengan membuang susu di Tugu Patung Susu Tumpah, Sabtu 9 November 2024.

Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap kebijakan industri pengolahan susu (IPS) yang membatasi penyerapan susu mentah dari peternak, yang menyebabkan banyak susu tidak bisa diproses  pabrik.

Koordinator Aksi, Sriyono Bonggol, menjelaskan dalam aksi solidaritas ini, total ada 50 ribu liter susu yang dibuang. Selain dibuang di lokasi tersebut, susu juga dibagikan gratis kepada warga pengguna jalan. Jika dihitung, susu yang dibuang tersebut bernilai sekitar Rp400 juta.

“Total ada 50 ribu liter susu yang dibuang dalam aksi solidaritas ini. Jika dihitung, uang yang dibuang dalam aksi ini mencapai Rp 400 juta,” kata Sriyono.

Menurutnya, aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pembatasan kuota susu yang diserap oleh pabrik-pabrik susu. Setiap harinya, 30 ribu liter susu dari Boyolali tidak dapat diterima oleh industri pengolahan susu (IPS) karena adanya pembatasan tersebut. (KS01)

Tags

Terkini