nasional

Menelusuri Pesona Batik di Alila Solo lewat Cerita Wastra Koleksi Ninik Dyahningrum Joesoef

KS1
Rabu, 2 Oktober 2024 | 15:45 WIB
Menelusuri Pesona Batik di Alila Solo lewat Cerita Wastra Koleksi Ninik Dyahningrum Joesoef. (KlikSoloNews/Daniel)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Dalam setiap helai kain batik, terdapat kisah yang abadi, mengisahkan budaya yang kaya dan beragam.

Pameran eksklusif bertajuk "Cerita Wastra" hadir untuk menghidupkan cerita-cerita tersebut melalui koleksi batik milik Ninik Dyahningrum Joesoef, yang sarat dengan nilai sejarah dan kenangan.

Pameran ini berlangsung dari tanggal 2 hingga 4 Oktober 2024, bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional, di Alila Solo.

Pengunjung akan diajak untuk menikmati keindahan kain-kain yang dipajang, di mana setiap motif menyimpan makna yang dalam.

Ninik Dyahningrum Joesoef menjelaskan bahwa ide pameran ini bermula dari keinginan sederhana untuk merayakan Hari Batik Nasional dengan tim hotelnya. “Awalnya hanya ingin buat kegiatan kecil, tapi ide ini berkembang menjadi pameran,” ujarnya.

-
Menelusuri Pesona Batik di Alila Solo lewat Cerita Wastra Koleksi Ninik Dyahningrum Joesoef. (KlikSoloNews/Daniel)

Pameran ini menampilkan total 22 wastra, dengan 16 kain batik dipajang di dinding dan 6 kain yang dibawakan oleh penari peragawati. Berbeda dari fashion show, para penari menghadirkan suasana intim dengan tarian yang menghibur, membawa kain-kain tersebut dengan anggun.

Salah satu koleksi paling berkesan bagi Ninik adalah Batik Pengsi Lereng Buntal, yang menyimpan kenangan indah bersama ibunya.

“Batik itu dibeli ibu saya dengan cara mencicil. Meskipun cicilannya belum lunas, saya sudah membawanya ke Jogja saat kuliah,” kenangnya.

Ninik juga menyoroti Batik Sudagaran, yang memiliki detail rumit dan memakan waktu lama dalam pengerjaannya. Ia menyadari betapa kompleksnya proses pembuatan batik saat mulai mengumpulkannya di tahun 90-an.

-
Menelusuri Pesona Batik di Alila Solo lewat Cerita Wastra Koleksi Ninik Dyahningrum Joesoef. (KlikSoloNews/Daniel)

“Dulu, pembuatan batik dilakukan dengan penuh rasa, bahkan kadang pembatik berpuasa. Prosesnya bisa berlangsung 6 bulan hingga satu tahun. Kini, batik lebih menjadi industri yang cepat,” tuturnya.

Meskipun ini adalah pameran pertamanya, Ninik terkejut dengan antusiasme pengunjung. “Saya tidak menyangka responnya sehebat ini, membuat saya terharu dan bangga,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Ninik mengajak semua orang untuk mencintai batik. “Cintailah batik seperti kamu mencintai dirimu sendiri,” pesannya, menekankan pentingnya menghargai warisan budaya ini.

Pameran "Cerita Wastra" bukan hanya sebuah acara, tetapi juga sebuah ajakan untuk merayakan dan menghargai keindahan serta makna yang terkandung dalam setiap helai kain batik. (KS04)

Tags

Terkini