nasional

Kisah Sejarah Musik Indonesia di Solo: Sempat Diusulkan Bernama Indra Vox Sebelum Diputuskan Menjadi Lokananta

Minggu, 25 Desember 2022 | 20:12 WIB
Kisah Sejarah Musik Indonesia di Solo: Sempat Diusulkan Bernama Indra Vox Sebelum Diputuskan Menjadi Lokananta. (KlikSoloNews.com/LBC)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Kisah sejarah musik Indonesia di Solo, sempat diusulkan bernama Indra Vox sebelum diputuskan menjadi Lokananta.


Redaksi KlikSoloNews.com mengangkat sejarah panjang musik Indonesia yang bermula dari sebuah studio di Kota Solo, yang saat ini dikenal dengan Lokananta.

Seperti apa sejarah Lokananta hingga mewarnai dunia musik Indonesia? Berikut laporan Kisah Sejarah Musik Indonesia di Solo yang diangkat dalam dua seri. Selamat membaca.

Jauh dari hingar bingar geliat panggung terang musik Indonesia, Lokananta berdiri tenang menjaga dan merawat keping demi keping rekaman perjalanan negara ini dari Jalan Ahmad Yani Nomor 379, Kerten, Solo, Jawa Tengah.


Berdiri sejak tahun 1956, Lokananta awalnya mengemban tugas untuk memproduksi sekaligus mendistribusikan materi siaran untuk Radio Republik Indonesia dalam bentuk piringan hitam untuk kemudian disebarluaskan ke RRI seluruh Indonesia.


R Maladi, Kepala Jawatan RRI saat itu, berinisiatif mendirikan pabrik piringan hitam dengan harapan agar lagu barat tidak mendominasi siaran RRI.


Tepat pada tanggal 29 Oktober 1956 pukul 10 pagi waktu Jawa (sekarang Waktu Indonesia Bagian Barat), Lokananta resmi berdiri dengan nama lengkap Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta.


Sempat diusulkan bernama Indra Vox, singkatan dari Indonesia Raya Vox, nama Lokananta merujuk pada seperangkat gamelan surgawi dalam cerita pewayangan Jawa yang bisa berbunyi sendiri dengan nada yang indah.


Seperangkat gamelan yang berada di Lokananta saat ini, yaitu Gamelan Sri Kuncoro Mulyo, dipercaya merupakan gamelan yang paling mendekati trah dari gamelan surgawi Lokananta.


Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, bidang usaha Lokananta kemudian berkembang menjadi label rekaman dengan spesialisasi pada lagu daerah, pertunjukan kesenian, juga penerbitan buku dan majalah. Nama-nama besar seperti Gesang, Sam Saimun, Waldjinah, Buby Chen, dan Jack Lesmana pernah menjadi bagian dari institusi yang kemudian bernama “Perusahaan Negara Lokananta” ini.


Menyimpan Rekaman Penting

Selain koleksi lagu-lagu daerah, Lokananta juga menyimpan rekaman penting sejarah perjalanan bangsa Indonesia, seperti sub-master pidato proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – yang ternyata direkam pada tahun 1951 dan dikirim ke Lokananta pada 1959 untuk digandakan –, lalu rekaman lagu kebangsaan “Indonesia Raya” versi instrumental gubahan Jos Cleber dengan durasi dan lirik untuk tiga stanza, serta pidato Ir. Soekarno saat pembukaan Konferensi Asia Afrika pertama di Bandung pada tahun 1955.


Medio 70-an hingga akhir 80-an menjadi momen keemasan Lokananta. Keputusan untuk beralih format dari medium piringan hitam ke kaset pada tahun 1972 berbuah manis. Setiap bulan Lokananta mampu melepas 100 ribu keping kaset di pasaran dan disambut baik oleh publik.


Pada tahun 1985, dengan diresmikan oleh Menteri Penerangan Harmoko, Lokananta memiliki studio seluas 14 x 31 meter yang memungkinkan untuk menggelar rekaman live dengan tata akustik ruangan yang mumpuni. Studio Lokananta merupakan studio terbesar di Indonesia sampai saat ini. (Bersambung-KS01)

Tags

Terkini