soloraya

Tergerus Aturan dan Harga Tiket, Ikon Wisata Karanganyar Grojogan Sewu Kehilangan Daya Tarik

KS1
Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:00 WIB
Tergerus Aturan dan Harga Tiket, Ikon Wisata Karanganyar Grojogan Sewu Kehilangan Daya Tarik. (KlikSoloNews/dok HarianKota)

KARANGANYAR, KLIKSOLONEWS.COM  – Aktivitas wisata di Grojogan Sewu kini tak lagi seramai dulu. Pada hari biasa, jumlah pengunjung dilaporkan merosot tajam, bahkan kerap tidak mencapai 100 orang per hari.

Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Karanganyar, mengingat Grojogan Sewu selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, mengungkapkan penurunan jumlah wisatawan terlihat jelas dari hasil pemantauan langsung di lapangan.

Menurutnya, lonjakan pengunjung masih terjadi saat akhir pekan, namun belum mampu menutupi rendahnya kunjungan pada hari biasa.

“Weekend bisa mencapai sekitar 500 orang, tapi hari biasa masih sangat rendah,” ujarnya, dikutip HarianKota, jejaring KlikSoloNews, Sabtu (2/5/2026).

Salah satu faktor utama penyebab penurunan kunjungan adalah status kawasan Grojogan Sewu yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia sebagai hutan konservasi.

Aturan tersebut membatasi pengembangan destinasi wisata, termasuk larangan aktivitas seperti camping, glamping, dan atraksi wisata modern.

Kondisi ini membuat pengelola kesulitan berinovasi dan bersaing dengan destinasi lain yang lebih fleksibel dalam menghadirkan pengalaman wisata kekinian.

Harga Tiket Dinilai Kurang Kompetitif

Selain regulasi, harga tiket masuk juga menjadi sorotan. Saat ini, pengunjung dikenakan tarif sekitar Rp27.000 per orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp15.000 masuk sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sementara pengelola juga masih menanggung biaya sewa lahan.

“Struktur biaya jadi cukup berat, sehingga kurang kompetitif dibanding tempat lain,” jelas Yopi.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah masa kontrak pengelolaan yang akan berakhir pada 2029. Hal ini membuat pengelola lebih berhati-hati dalam melakukan investasi besar untuk pengembangan destinasi.

Untuk mengatasi penurunan kunjungan, Pemkab Karanganyar mulai menyiapkan berbagai langkah strategis, antara lain menggelar event olahraga, pertunjukan seni, dan kolaborasi dengan kreator konten digital.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan eksposur dan menarik minat wisatawan, khususnya dari kalangan muda.

“Kami akan dorong kegiatan yang bisa meningkatkan eksposur dan menarik pengunjung baru,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga mendorong evaluasi kebijakan terkait pengelolaan kawasan konservasi serta skema PNBP agar lebih adaptif terhadap perkembangan sektor pariwisata.

“Hasil evaluasi akan kami sampaikan ke pemerintah pusat. Harapannya ada solusi yang tetap menjaga konservasi, tapi juga membuka ruang pengembangan,” pungkas Yopi.(ks01)

Tags

Terkini