soloraya

Petani Sukoharjo Siap Produksi Pangan Sehat dengan Regeneratif Agriculture

KS1
Selasa, 21 April 2026 | 06:09 WIB
Petani Sukoharjo Siap Produksi Pangan Sehat dengan Regeneratif Agriculture. (KlikSoloNews/dok)

SUKOHARJO, KLIKSOLONEWS.COM — Kabupaten Sukoharjo sebagai wilayah penyangga utama Kota Surakarta memiliki peran strategis dalam penyediaan pangan di kawasan Solo Raya.

Tidak hanya sebagai penghasil beras, Sukoharjo juga menjadi sentra komoditas hortikultura seperti sayuran, bumbu, dan buah-buahan.

Berdasarkan data Sukoharjo Dalam Angka 2026, produksi hortikultura unggulan pada tahun 2025 meliputi melon sebesar 3.962 kuintal, bawang merah 7.790 kuintal, semangka 4.287 kuintal, dan cabai rawit 3.647 kuintal, dengan total luas panen mencapai 20.177,05 hektare.

Peran ini semakin krusial mengingat Kota Surakarta tidak memiliki lahan pertanian, sehingga sekitar 90% kebutuhan pangannya bergantung pada wilayah penyangga, termasuk Sukoharjo.

Riset food flow oleh LPPM UNS (P4GKM, 2025) juga menegaskan posisi Sukoharjo sebagai pemasok utama pangan, khususnya buah dan bumbu, bagi kawasan perkotaan.

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo telah mendorong pengembangan sektor hortikultura melalui berbagai kebijakan, mulai dari perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, penyediaan benih unggul, peningkatan sarana produksi dan teknologi, hingga penguatan kapasitas petani dan sistem pemasaran.

Namun demikian, hasil baseline budidaya dan analisis usaha tani oleh Gita Pertiwi (Desember 2025) menunjukkan masih adanya sejumlah tantangan mendasar dalam praktik budidaya.

Asesmen menunjukkan Sukoharjo memiliki potensi agrifood yang kuat dengan sistem produksi yang cukup beragam, baik di lahan sawah maupun pekarangan.

-
Petani Sukoharjo Siap Produksi Pangan Sehat dengan Regeneratif Agriculture. (KlikSoloNews/dok)

Intensitas tanam yang tinggi (2–3 kali per tahun) serta dominasi petani usia produktif dengan tingkat pendidikan yang relatif baik menjadi modal penting untuk pengembangan.

Namun di sisi lain, sistem produksi masih menghadapi beberapa kendala utama diantaranya ketergantungan tinggi terhadap input eksternal seperti pupuk dan pestisida kimia, penggunaan pestisida yang masih dominan bersifat kuratif, biaya produksi yang tinggi, terutama pada komponen benih, pupuk, dan tenaga kerja, minimnya penanganan pascapanen serta lemahnya posisi tawar petani dalam rantai distribusi.

Selain itu, praktik budidaya yang masih didominasi pendekatan konvensional, penggunaan benih hibrida, serta pengelolaan air yang belum optimal turut berkontribusi pada potensi penurunan kualitas lingkungan dan efisiensi usaha tani.

Menjawab tantangan tersebut, pendekatan Regenerative Agriculture (Pertanian Regeneratif) diperkenalkan sebagai solusi untuk memulihkan sekaligus meningkatkan kualitas sistem pertanian.

Prinsip utama pendekatan ini meliputi Pemulihan kesehatan tanah melalui bahan organik dan aktivitas biologi, Pengurangan ketergantungan pada input kimia sintetis, Pengelolaan air yang lebih efisien dan adaptif, Peningkatan keanekaragaman hayati, Penguatan kemandirian petani berbasis sumber daya lokal.

-
Petani Sukoharjo Siap Produksi Pangan Sehat dengan Regeneratif Agriculture. (KlikSoloNews/dok)

Pendekatan ini sebelumnya telah diujicobakan melalui Sekolah Lapang sejak Juli 2025 di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, yang menunjukkan hasil positif dalam menekan biaya produksi serta meningkatkan keberlanjutan praktik budidaya.

Sebagai upaya memperluas dampak, kegiatan Training of Trainers (ToT) Regenerative Agriculture diselenggarakan untuk Meningkatkan kapasitas petani dan fasilitator lokal, mendorong adopsi praktik pertanian berkelanjutan, dan mereplikasi model pembelajaran berbasis lapangan ke wilayah lain

Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terkait pengelolaan tanah sehat dan penggunaan pupuk organic, strategi pengurangan input kimia, serta praktik budidaya yang lebih efisien dan adaptif terhadap kondisi lingkungan dan pasar

Salah satu peserta Agus, petani kelompok tani, Desa Plesan, mengatakan, "Selama ini biaya produksi kami cukup tinggi karena bergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Dari pelatihan ini, kami belajar cara memanfaatkan bahan lokal untuk menekan biaya."

Peserta lain Sunarman menambahkan, menyampaikan kesan dalam mengikuti kegiatan ini.

“Pelatihannya menarik karena banyak praktik langsung. Ini menambah wawasan kami tentang bagaimana memperbaiki kondisi tanah dan pertanian ke depan," terang Sunarman.

Indah PPL Kecamatan Nguter, juga menyampaikan harapannya. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan, dan ilmu yang didapat hari ini benar-benar bisa diimplementasikan di lapangan para petani," tutur Indah.

Sementara Hadi Pramono S.P, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Perikanan Kab. Sukoharjo menegaskan kegiatan ini sangat penting untuk menjaga ekologi tanah.

"Selama ini penggunaan bahan kimia memang meningkatkan hasil, tetapi di sisi lain menurunkan kualitas lahan dan produk kita," ucap Hadi.

Melalui kegiatan ini, Sukoharjo siap produksi pangan sehat dengan regenerative agriculture sebagai penyangga pangan kawasan sekaligus bertransformasi menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan, efisien, dan berdaya saing.(Alfian Khamal/KS01)

Tags

Terkini