soloraya

Ekonomi Global Bergejolak, Dunia Usaha di Karanganyar Tetap Stabil

KS1
Minggu, 5 April 2026 | 11:00 WIB
Ketua HIPMI Karanganyar, Hervan Miftah Hafidin, (KlikSoloNews/dok HarianKota)

KARANGANYAR, KLIKSOLONEWS.COM – Tekanan ekonomi global yang masih berlangsung belum sepenuhnya berdampak pada aktivitas bisnis di Karanganyar.

Pelaku usaha di daerah ini dinilai masih mampu menjaga stabilitas operasional, terutama karena faktor biaya energi yang relatif terkendali.

Ketua HIPMI Karanganyar, Hervan Miftah Hafidin, menyebut kondisi dunia usaha saat ini masih cukup kondusif. Aktivitas bisnis berjalan normal tanpa gangguan berarti.

“Untuk saat ini belum ada dampak signifikan. Dunia usaha masih berjalan normal,” ujarnya, Jumat (3/4/2026) dikutip dari HarianKota, jejaring KlikSoloNews.

Menurut Hervan, salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas usaha adalah harga bahan bakar minyak (BBM) yang belum mengalami lonjakan signifikan.

Kondisi ini membantu pelaku usaha dalam mengontrol biaya produksi serta menjaga harga barang tetap stabil di pasaran. Dengan beban operasional yang tidak meningkat tajam, keseimbangan bisnis pun tetap terjaga meskipun situasi global sedang tidak menentu.

Meski kondisi saat ini masih relatif aman, Hervan mengingatkan pentingnya langkah antisipatif ke depan, terutama terkait cadangan energi nasional yang dinilai masih terbatas.

“Cadangan BBM kita masih terbatas. Ini perlu jadi perhatian agar ke depan lebih aman,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz. Jika terjadi gangguan di jalur tersebut, dampaknya dapat dirasakan hingga ke Indonesia.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat kerja sama internasional di sektor energi serta meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM nasional.

Pelemahan Rupiah Bisa Jadi Peluang

Di tengah tekanan global, pelemahan nilai tukar rupiah justru dinilai dapat menjadi peluang bagi pelaku ekspor. Nilai produk yang dijual ke luar negeri akan lebih kompetitif dan menguntungkan saat dikonversi ke rupiah.

Namun demikian, kondisi tersebut tetap perlu diimbangi dengan pengendalian inflasi agar biaya produksi tidak ikut meningkat.

Hervan menjelaskan, sektor industri besar seperti tekstil cenderung lebih rentan terhadap dinamika global dibandingkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

UMKM di Karanganyar dinilai masih cukup aman karena sebagian besar pasarnya berada di kawasan Asia Timur, sehingga tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak global.

Ia juga menegaskan bahwa situasi krisis sering kali membuka peluang baru bagi pelaku usaha, seperti yang terjadi saat pandemi COVID-19 yang justru melahirkan banyak bisnis baru, terutama di sektor digital.

“Yang penting pelaku usaha bisa beradaptasi. Karena dunia bisnis selalu berubah,” tandasnya.(ks01)

Tags

Terkini