soloraya

Mahasiswa UNS Sulap Limbah Organik Jadi Bernilai lewat Budidaya Maggot di Karanganyar

KS1
Rabu, 28 Mei 2025 | 09:00 WIB
Mahasiswa UNS Sulap Limbah Organik Jadi Bernilai lewat Budidaya Maggot di Karanganyar. (KlikSoloNews/dok UNS)

KARANGANYAR, KLIKSOLONEWS.COM — Sampah organik rumah tangga yang selama ini dianggap sebagai masalah kini mulai dilirik sebagai peluang ekonomi baru.

Hal ini dibuktikan sekelompok mahasiswa dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang menggagas program budidaya maggot di Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

Melalui program hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), sepuluh mahasiswa UNS bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga untuk menjalankan inisiatif berbasis ekonomi sirkular ini sejak Februari 2025.

Proyek yang berlangsung hingga Mei 2025 ini bertujuan mengurangi volume limbah organik sekaligus memperkenalkan teknologi budidaya maggot yang ramah lingkungan dan bernilai jual tinggi.

“Kami ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa limbah rumah tangga bisa menjadi sumber penghasilan baru jika dikelola dengan benar,” ujar Aisya Allela, anggota tim mahasiswa, dalam keterangan tertulis di laman resmi UNS, Senin 26 Mei 2025.

Program ini tidak hanya fokus pada pengurangan sampah, tetapi juga menciptakan ekosistem baru berbasis kolaborasi kampus dan masyarakat.

Maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) dipilih karena kemampuannya mengurai limbah organik secara cepat dan efisien. Maggot juga memiliki potensi besar sebagai pakan ternak bernutrisi tinggi.

Selama program berlangsung, mahasiswa mendampingi masyarakat dalam proses pemilahan limbah, pembuatan media maggot, hingga pengemasan hasil panen berupa maggot kering. Siklus budidaya yang relatif cepat—dengan panen setiap dua minggu—menjadi daya tarik tersendiri.

Meskipun menghadapi kendala seperti bau menyengat dari limbah, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara ketat terbukti mampu mengatasinya.

Dalam praktiknya, warga juga dibekali pelatihan langsung oleh Sri Basuki Rachmat, praktisi dari Bank Sampah Gajah Putih, yang sudah berpengalaman dalam budidaya maggot.

Antusiasme warga, khususnya anggota KWT Kenanga, menjadi kunci keberhasilan program ini. Bahkan, beberapa warga mulai menjalankan budidaya maggot secara mandiri setelah pelatihan berakhir.

“Kini masyarakat mulai sadar bahwa limbah organik bukan akhir dari siklus, melainkan awal dari potensi baru yang bisa dimanfaatkan,” lanjut Aisya.

Dengan pendekatan yang aplikatif dan edukatif, program ini menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Budidaya maggot tidak hanya mengatasi persoalan sampah, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

Inisiatif ini diharapkan bisa menjadi percontohan bagi desa lain dalam pengelolaan limbah organik. Konsep ekonomi sirkular yang diusung menjadikan program ini tidak hanya berdampak sesaat, tetapi membuka jalan menuju sistem berkelanjutan.

Dengan dukungan akademik dari UNS dan semangat kolaboratif warga, Desa Wonosari kini tengah menapaki jalur menjadi desa mandiri dalam pengelolaan limbah. Bukti bahwa solusi lingkungan bisa lahir dari inovasi sederhana, asal dilakukan bersama.(ks01)

Tags

Terkini