KLATEN, KLIKSOLONEWS.COM - Pemberdayaan perempuan di sektor pertanian bukan lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi bagian nyata dari pembangunan desa yang berkelanjutan.
Di Desa Juwiring, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, keberhasilan program pemberdayaan perempuan terlihat nyata melalui aktivitas Kelompok Wanita Tani (KWT) Juwiring, yang menjadi pelaku utama dalam transformasi pertanian regeneratif.
Program pemberdayaan ini merupakan hasil kolaborasi antara PT Tirta Investama (Aqua Klaten), Yayasan Gita Pertiwi, dan Pemerintah Desa Juwiring.
Berangkat dari tantangan krisis air irigasi dan praktik pertanian konvensional yang merusak lingkungan, lahirlah inisiatif bertajuk Integrated Water Resource Management (IWRM) yang menyasar kawasan hilir Sub-DAS Pusur.
Sebelum didampingi, KWT Juwiring berada di ambang pembubaran. “Mati enggan, hidup tak mau,” ujar Sri Sugiarti, Ketua KWT Juwiring.
Namun, sejak pendampingan dimulai pada 2019, kelompok ini bangkit dan berkembang menjadi satu-satunya KWT yang aktif di wilayah kecamatan.
Strategi yang digunakan Yayasan Gita Pertiwi bukanlah pendekatan instruktif, tetapi partisipatif. Jadwal kegiatan menyesuaikan rutinitas warga, misalnya pertemuan rutin dilaksanakan setelah kegiatan posyandu, agar efisien dan inklusif.
Kepemimpinan kolektif ditekankan. “Saya tidak mau memutuskan sendiri,” kata Sugiarti, menekankan pentingnya musyawarah dan rasa kepemilikan bersama.
Transformasi Pertanian: Inovasi Ramah Lingkungan dan Efisien Biaya
Kegiatan KWT tidak hanya fokus pada aspek sosial, tetapi juga teknis. Mereka mempraktikkan sistem tanam singgang yang hemat air, memproduksi pupuk organik cair dan pestisida nabati dari tanaman lokal seperti buah maja dan tembakau, serta mengelola irigasi secara gotong royong.
Salah satu tonggak sukses adalah keberhasilan mengendalikan serangan wereng menggunakan pestisida alami.
"Penyemprotan dilakukan bersama. Perminggu disemprot. Akhirnya kita berhasil mengendalikan hama hanya dengan pesnab mojo," jelas Sugiarti.
Perubahan besar terjadi pada anggota KWT. Wati, salah satu petani, menyampaikan kini tidak perlu membeli pupuk kimia.
-
"Irit sanget, saged nyisihke arto kangge kebutuhan sanes," ujarnya. Bahkan Lastri mulai berjualan sayur organik hasil pekarangan. “Seminggu bisa dapat seratus ribu. Lumayan,” tuturnya.
Selain ekonomi, dampak sosial juga dirasakan. “Sakniki kulo langkung PD, sering diundang ngajari pupuk organik,” kata Lastri.
Program juga mempererat hubungan antarwarga. “Sekarang sering gotong royong bareng, tukar pikiran,” ungkap Wati.
Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Dari 80 anggota awal, kini hanya tersisa sekitar 20 yang aktif. “Yang bertahan itu yang paham manfaatnya,” ujar Sugiarti.
Tantangan lain datang dari keluarga. “Bapak kadang nyeneni, ‘mosok arep gawe pupuk dewe, tuku wae nang toko’,” cerita Suripah sambil tertawa.
Keseimbangan antara kegiatan rumah tangga dan kelompok menjadi ujian tersendiri bagi anggota.
Kini, meskipun pendampingan rutin dari Gita Pertiwi telah berakhir, KWT tetap berjalan. “Gita Pertiwi mungkin melihat kita sudah bisa mandiri,” kata Sugiarti.
Strategi keberlanjutan mencakup pelatihan anggota baru, dokumentasi proses, dan menjaga jejaring dengan mitra.
“Insyaallah saged,” ucap Wati optimis.
Namun Suripah menilai perlu waktu transisi. “Mbok menawi setahun dua tahun wonten pendampingan rumiyin.”
Kolaborasi antara korporasi, LSM, dan pemerintah desa di Juwiring menciptakan sinergi yang berhasil meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian perempuan petani.
Program ini bukan hanya menciptakan perubahan ekonomi dan lingkungan, tetapi juga membangun kepemimpinan dan solidaritas komunitas.
Kisah KWT Juwiring membuktikan pemberdayaan perempuan bukan hanya urusan perempuan. Ini tentang membangun masa depan desa yang mandiri, berkelanjutan, dan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.
Kegiatan utama program pemberdayaan di KWT Juwiring meliputi beberapa aspek penting, antara lain:
- Pelatihan dan pendampingan pertanian sehat/regeneratif, termasuk adopsi sistem tanam singgang (tanpa olah tanah) untuk menghemat air dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
- Produksi pupuk organik cair (POC) dan pestisida nabati berbahan buah maja serta ramuan tanaman lokal (tembakau, sambiloto, daun mindi) sebagai alternatif pupuk/obat kimia.
- Penanaman pohon maja dan penghijauan di sepanjang daerah aliran sungai di Juwiring.
- Pengelolaan dan pemeliharaan irigasi secara gotong royong oleh petani pengguna air dan Forum Relawan Irigasi.
Penulis: Dikka Prasetyo, Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Dipoengoro dengan konsentrasi akademiknya berfokus pada kebijakan publik dan pemberdayaan masyarakat. Penulis menjabat sebagai Corporate Social Responsibility - PROPER Assistant di PT Sinergi Enviro Nusantara. (KS01)