SRAGEN, KLIKSOLONEWS.COM – Bencana tanah bergerak melanda Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dan telah berlangsung sejak September 2025.
Hingga awal Februari 2026, pergerakan tanah yang terjadi secara perlahan namun berulang ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur desa serta puluhan rumah warga.
Sedikitnya tiga dukuh, yakni Tawangsari, Bendorejo, dan Wonorejo, terdampak bencana tersebut. Retakan tanah dan amblesan terus bertambah, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang.
Di Dukuh Wonorejo, kerusakan tampak jelas pada ruas jalan desa yang mengalami retak memanjang hingga ambles. Selain itu, saluran drainase di wilayah tersebut juga rusak cukup parah akibat pergeseran tanah.
Tak hanya infrastruktur, sejumlah bangunan rumah warga di dukuh lain turut mengalami kerusakan. Dinding rumah retak, lantai ambles, bahkan sebagian bangunan terancam roboh. Kondisi ini membuat beberapa warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Sedikitnya dua kepala keluarga dilaporkan telah mengungsi ke rumah sanak saudara karena tempat tinggal mereka sudah tidak aman untuk dihuni.
Salah seorang warga terdampak, Suroso, mengaku mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat kerusakan rumahnya. Ia menceritakan peristiwa tembok rumah yang tiba-tiba jebol saat malam hari.
“Kerugiannya sekitar 60 jutaan. Mau pindah juga tidak punya tempat. Kejadiannya malam, tahu-tahu tembok jebol. Untung waktu itu saya tidak berada di dalam,” ungkapnya.
Kepala Desa Sambi, Kresna Widya Permana, mengatakan pihaknya terus mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan sambil menunggu hasil kajian dari tim Badan Geologi Kementerian ESDM.
Menurutnya, aparat desa telah meminta warga segera mengamankan diri apabila hujan lebat turun dalam waktu lama. Pemerintah desa juga telah menyebarkan nomor darurat agar warga bisa segera melapor jika terjadi kondisi membahayakan.
“Beberapa warga sudah mengungsi ke rumah keluarga karena rumahnya tidak bisa ditempati lagi. Kami masih menunggu arahan dan rekomendasi dari Badan Geologi,” jelas Kresna.
Tanah Bergerak Bertipe Rayapan
Hasil pengamatan Tim Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan bahwa pergerakan tanah di Desa Sambi termasuk dalam tipe rayapan dengan kecepatan lambat, namun berpotensi terus terjadi secara berulang.
Penyelidik Bumi Ahli Madya dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Yudi Wahyudi, menjelaskan bahwa ciri pergerakan ini ditandai dengan retakan dan amblesan yang membentuk pola terasering menyerupai tapal kuda.
“Gerakan tanah ini memang relatif lambat dan tidak langsung mengancam jiwa, namun dampaknya signifikan terhadap infrastruktur seperti jalan, rumah, dan jembatan. Di lokasi ini terlihat jelas adanya pergeseran di bagian tengah jembatan,” terangnya.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah desa kembali mengingatkan warga agar tetap waspada, terutama saat hujan deras berkepanjangan, sembari menunggu langkah penanganan lanjutan dari instansi terkait.(KS01)