BOYOLALI, KLIKSOLONEWS.COM – Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggagas program pemberdayaan masyarakat di Dusun Jrangkah, Desa Sudimoro, Kecamatan Teras, Boyolali.
Program ini fokus pada pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk budidaya tanaman sayuran dan obat keluarga (toga), yang menyasar Kelompok Dasa Wisma Melati.
Melalui kegiatan bertajuk "Pemberdayaan Kelompok Dasa Wisma Melati dalam Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Budidaya Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat Keluarga", para dosen dan peneliti dari Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, yang tergabung dalam Riset Grup Komunikasi Pertanian UNS, berupaya memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan pelestarian tanaman obat tradisional.
Program ini dilaksanakan sejak akhir Mei dan direncanakan berakhir pada awal September 2025. Salah satu lokasi sentral pelaksanaan kegiatan adalah kebun toga "Toga Bagas Waras", yang dijadikan sebagai ruang edukasi dan praktik bersama bagi anggota Dasa Wisma.
Kegiatan ini dilakukan secara partisipatif dan edukatif dalam tiga tahapan utama:
- Penyuluhan dan Edukasi
Peserta mendapatkan materi mengenai Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), teknik budidaya sayuran dan toga, manfaat kesehatan, hingga analisis potensi ekonomi dari hasil pekarangan.
2. Pelatihan dan Praktik Lapangan
Ibu-ibu Dasa Wisma langsung mempraktikkan penanaman sayuran seperti bayam, kangkung, cabai, hingga terong, serta tanaman toga seperti jahe hitam, kunyit hitam, dan kencur hitam. Teknik budidaya mengedepankan prinsip ramah lingkungan dengan bahan organik lokal.
3. Pendampingan dan Monitoring
Tim UNS melakukan kunjungan rutin untuk memberikan bimbingan teknis dan memantau perkembangan tanaman, sekaligus membangun semangat keberlanjutan program di masyarakat.
Kombinasi Toga Langka dan Sayuran Harian
Ketua tim pengabdian, Dr Dwiningtyas Padmaningrum, menjelaskan program ini mengusung inovasi dengan mengombinasikan tanaman sayuran konsumsi dan toga langka yang memiliki nilai kesehatan dan ekonomi tinggi.
“Tanaman seperti kunyit hitam dan jahe hitam jarang dibudidayakan, padahal khasiatnya luar biasa. Kami ingin menunjukkan bahwa pekarangan rumah dapat menjadi sumber pangan sekaligus apotek hidup keluarga,” jelasnya.
Program ini disambut hangat oleh warga, khususnya ibu-ibu Dasa Wisma. Salah satu peserta, Ibu Kuwati, mengungkapkan kebahagiaannya:
“Dulu pekarangan kami kosong, sekarang hijau dan bermanfaat. Kami tanam sendiri, hasilnya bisa untuk dapur dan menjaga kesehatan keluarga.”
Tim pelaksana berharap program ini dapat direplikasi di wilayah pedesaan lain. Selain memperkuat ketahanan pangan dan pelestarian tanaman obat, program ini juga membuka peluang ekonomi, seperti pengolahan jamu segar, teh herbal, hingga bumbu instan berbasis toga.
Melalui pendekatan community empowerment, kegiatan ini menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam pembangunan berbasis desa.
“Ilmu tidak hanya berhenti di kelas atau jurnal. Melalui program ini, kami wujudkan tanggung jawab akademik secara langsung kepada masyarakat,” tegas salah satu perwakilan tim.
Dengan sinergi antara pengetahuan, gotong royong, dan semangat keberlanjutan, program ini diharapkan menjadi pemicu lahirnya desa-desa mandiri yang sehat, hijau, dan lestari. (Riset Grup Komunikasi Pertanian – Fakultas Pertanian UNS/ks01)