solo

Pengacara Ini Pilih Memafkan Dua Pencuri, Alasannya Menyentuh Hati

KS1
Jumat, 28 Maret 2025 | 16:00 WIB
Pengacara Ini Pilih Memafkan Dua Pencuri, Alasannya Menyentuh Hati. (KlikSoloNews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Solo, sebuah kisah pengampunan dan harapan muncul dari sebuah kejadian yang seharusnya berujung di meja hijau.


Dua pria, Yuli Arifin dan Gillis Andrian, berhadapan dengan Muhammad Bagus Adi Wicaksono di Kantor Law Firm BRM Kusumo Putro SH MH, Solo, pada Selasa 25 Maret 2025, dengan perasaan penuh penyesalan.


Mereka bukanlah kriminal ulung, melainkan pekerja serabutan—Yuli seorang Supeltas dan Andrian seorang petugas parkir.

Desakan ekonomi membuat mereka tergoda untuk mencuri barang-barang berharga dari rumah Bagus pada Minggu 23 Maret 2025.

Namun, berbeda dengan banyak kasus pencurian lainnya, cerita ini berakhir tidak dengan tuntutan hukum, tetapi dengan kehangatan maaf.

Bagus, seorang pengacara di firma hukum tersebut, melihat sesuatu yang lebih dari sekadar tindak kriminal. Dia melihat manusia yang tersudut oleh keadaan dan mencoba bertahan dengan cara yang salah.

Barang-barang curian—tablet, ponsel, jam tangan, dan sejumlah uang tunai—telah dikembalikan. Tetapi yang lebih penting dari itu, Bagus melihat penyesalan mendalam di wajah kedua pria tersebut.

“Saya percaya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Terlebih di bulan suci ini, di mana memaafkan adalah salah satu ajaran yang harus kita jalankan," ujar Bagus dengan penuh ketulusan.

Didampingi istri masing-masing dan pengurus RT, Yuli dan Andrian datang ke kantor hukum untuk meminta maaf secara langsung. Dengan penuh kesadaran, mereka menandatangani surat pernyataan bermeterai, berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Kusumo Putro, pengacara senior yang turut hadir, menyatakan  keputusan untuk berdamai diambil setelah pertimbangan matang.

“Mereka ini adalah kepala keluarga, punya anak-anak yang masih kecil. Jika mereka dipenjara, lantas bagaimana nasib keluarga mereka? Ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kesalahan, selalu ada ruang untuk pengampuna dan harapan," urai Kusumo Putro.

Kusumo berpesan, jangan selalu berpikir tidak baik kepada pencuri sekalipun, karena tidak mengetahui kesulitan hidup yang mereka alami saat ini dan jangan pernah menganggap remeh dan menyepelekan, serta merendahkan orang lain, walau dia adalah seorang pencuri sekalipun.

"Allah yang Maha Agung Pencipta Jagad Raya ini punya caranya sendiri untuk menyadarkan mereka agar tidak melakukan perbuatannya lagi. Dengan cara-Nya sendiri yang tidak kita ketahui dan kita pahami sebelumnya, begitu pula kita juga tidak akan pernah mengetahui kapan napas kehidupan kita akan berakhir," tutur Kusumo.

Dalam semangat saling membantu, bukan hanya pengampunan yang diberikan, tetapi juga bentuk kepedulian nyata.

Bagus menyerahkan bingkisan sembako kepada Yuli dan Andrian, sebagai tanda bahwa masih ada kebaikan di dunia ini yang bisa merangkul mereka kembali ke jalan yang benar.

Kisah ini bukan hanya tentang pencurian yang dimaafkan, tetapi juga tentang bagaimana manusia bisa belajar dari kesalahannya. Dalam dunia yang sering kali keras terhadap mereka yang tersandung dalam kehidupan, pengampunan dapat menjadi jembatan menuju perubahan yang lebih baik.

Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kesalahan, selalu ada ruang untuk pengampunan dan harapan. Karena di akhir hari, bukan hanya hukuman yang bisa mengubah seseorang, tetapi juga kesempatan kedua yang diberikan dengan hati yang tulus.(KS01)

Tags

Terkini