solo

Kisah Sejarah Musik Indonesia di Solo: Lokananta 66 Tahun Jadi Benteng Kokoh Penjaga Warisan Musik Nusantara

Minggu, 25 Desember 2022 | 21:03 WIB
Kisah Sejarah Musik Indonesia di Solo, Lokananta 66 tahun jadi benteng kokoh penjaga warisan musik Nusantara. (KlikSoloNews/LBC)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM -- Kisah Sejarah Musik Indonesia di Solo, Lokananta 66 tahun jadi benteng kokoh penjaga warisan musik Nusantara.

Kisah sejarah musik Indonesia di Solo, sempat diusulkan bernama Indra Vox sebelum diputuskan menjadi Lokananta.

Redaksi KlikSoloNews.com mengangkat sejarah panjang musik Indonesia yang bermula dari sebuah studio di Kota Solo, yang saat ini dikenal dengan Lokananta.

Seperti apa sejarah Lokananta hingga mewarnai dunia musik Indonesia? Berikut laporan Kisah Sejarah Musik Indonesia di Solo yang diangkat dalam dua seri dan tulisan di bawah ini menjadi seri penutup. Selamat membaca.

Waldjinah masih tampak cantik dan muda ketika mengenakan busana jawa, berselendang merah, dan berkemben biru muda. Wajahnya sangat cantik.

Legenda hidup musik keroncong itu berpose dalam sebuah frame foto untuk sampul album berjudul “Katju Biru”

Album itu terselip di antara koleksi piringan hitam yang tersimpan rapi di Ruang Vynil Lokananta. Suhu pendingin ruangan menjadi salah satu kiat awal agar piringan-piringan hitam ini tidak rusak karena jamur atau lembab.

Sebagai pionir di dunia industri musik (studio rekaman), wajar apabila Lokananta memiliki koleksi piringan hitam sampai ribuan jumlahnya. Meski wajar, namun tetap saja ada nilai lebih ketika apa yang ada dalam koleksi itu banyak mengandung sejarah tentang dunia musik di Indonesia.

Ya, sejarah adalah salah satu potensi yang sangat mungkin akan bisa digali dari keberadaan Lokananta yang kini usianya sudah mencapai 61 tahun.

Beberapa rekaman penting tentang sejarah negeri ini masih tersimpan sangat rapi di Lokananta. Lagu Indonesia Raya menjadi salah satu masterpiece atau harta karun yang akan selalu menjadi daya tarik ketika berkunjung ke Lokananta.

Rekaman pembacaan naskah proklamasi dengan suara Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, menjadi salah satu yang tersimpan sebagai harta karun.

Pidato teks proklamasi tersebut direkam pada 1951 di Studio RRI yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5 Jakarta. Pada 17 Agustus 1945, mengingat kondisi Negara kala itu, tidak bisa dilakukan perekaman karena diawasi oleh Jepang.

Untuk itu, seorang pendiri RRI, Jusuf Ronodipuro meminta Presiden Soekarno kembali merekam pembacaan teks proklamasi kemerdekaan. Namun, permintaan tersebut sempat ditentang Soekarno yang menganggap pembacaan teks proklamasi hanya berlaku satu kali.

Setelah dibujuk, Bung Karno pun akhirnya bersedia membacakan kembali teks proklamasi kemerdekaan. Hasil rekaman itu kemudian dikirimkan ke perusahaan piringan hitam Lokananta pada 1959.

Pasang Surut

Pasang surut dialami Lokananta dalam terus mengarungi waktu putaran zaman. Masa kejayaan bisa dikatakan terjadi antara tahun 1956 hingga tahun 1980-an akhir. Kejayaan itu ditandai dengan sederet nama seniman kondang yang pernah merasakan buah manis dari keberadaan Lokananta.

Dalam wilayah musik dan lagu antara lain ada nama alm Gesang, Titik Puspa, Waldjinah, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, Bing Slamet, Idris Sardi.

Sementara dalam seni tradisional ada nama Ki Narto Sabdo, Ki H Anom Suroto, Ki H Manteb Soedharsono (rekaman wayang), kelompok kethoprak Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro dan masih banyak nama-nama yang lainnya.

Era boleh berganti, namun Lokananta masih berdiri kokoh sebagai saksi sejarah dunia musik di Indonesia. Miftah menginginkan, Lokananta menjadi salah satu tempat kawula muda ataupun pecinta musik untuk berdiskusi dan membedah sejarah musik Indonesia.

Segala upaya telah dilakukan jajaran direksi untuk mempercantik Lokananta dari tampilan luar, yang tidak lagi terkesan suram. Momentum kebangkitan Lokananta diakui Miftah saat musisi Glenn Fredly melakukan rekaman di Studio Akustik Lokananta.

Lokananta pun diwacanakan menjadi rumah musik Indonesia, baik offline maupun online. Di mana, Lokananta menjadi pusat pengarsipan musik Indonesia dari zaman baheula hingga kini, tidak hanya koleksi Lokananta, namun juga label di luar Lokananta.

Indonesia sangat beruntung memiliki Lokananta. Kota Solo menjadi naungan Lokananta, akan menjadi tempat istimewa bagi sejarah musik Indonesia. Lokananta 66 tahun menjadi benteng kokoh penjaga warisan musik Nusantara.

Semangat Lokananta tetap menggema menjadi pusat rekaman untuk lagu, musik, dan beragam kesenian di Indonesia. (Selesai – KS01)

Tags

Terkini