gaya-hidup

Tindak Ziarah #4 Pringgolayan Berjalan Lancar, Panitia Siapkan Evaluasi dan Pengembangan Komunitas

KS1
Jumat, 22 Mei 2026 | 11:03 WIB
Tindak Ziarah #4 Pringgolayan Berjalan Lancar, Panitia Siapkan Evaluasi dan Pengembangan Komunitas. (KlikSoloNews/dok)

BANTUL, KLIKSOLONEWS.COM - Kegiatan Tindak Ziarah #4 yang diselenggarakan Komunitas Gereja Santo Paulus Pringgolayan di Bantul berlangsung lancar, aman, dan penuh kebersamaan pada Minggu (17/5/2026).

Perjalanan rohani sejauh kurang lebih 25 kilometer dari Gereja Pringgolayan menuju Taman Doa Wajah Kerahiman Allah Pajangan menjadi momentum refleksi iman sekaligus memperkuat semangat pelayanan dan persaudaraan antaranggota komunitas.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 04.30 WIB hingga 13.00 WIB itu terus menunjukkan perkembangan positif dan semakin diminati masyarakat. Selain menjadi sarana doa dan permenungan, Tindak Ziarah juga menjadi ruang kebersamaan yang menghubungkan peserta dari berbagai latar belakang.

Berdasarkan laporan panitia, Tindak Ziarah #4 diikuti 78 peserta yang terdata dalam grup komunikasi komunitas. Pelaksanaan kegiatan turut didukung oleh 10 relawan motoris, tiga relawan kesehatan, dan dua relawan dokumentasi.

Untuk menunjang kelancaran perjalanan, panitia menyiapkan satu unit ambulans, satu kendaraan pick up logistik, serta dua unit bus pendukung yang digunakan membantu kebutuhan peserta sepanjang perjalanan.

Pengurus komunitas menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kesuksesan kegiatan tersebut.

“Atas nama pengurus, kami mengucapkan puji syukur dan terima kasih atas terlaksananya kegiatan Tindak Ziarah #4 dengan lancar, aman, dan penuh kebersamaan,” demikian pernyataan pengurus.

Ucapan terima kasih secara khusus diberikan kepada peserta, relawan kesehatan, relawan motoris, tim dokumentasi, serta para donatur yang telah mendukung kegiatan hingga berjalan sukses.

Semangat Gotong Royong

Panitia menilai keberhasilan kegiatan tidak lepas dari semangat gotong royong yang menjadi nilai utama komunitas. Seluruh pembiayaan dilakukan secara kolektif oleh peserta setelah kegiatan selesai sebagai bentuk kebersamaan dan rasa memiliki terhadap komunitas.

“Kami memilih semangat gotong royong melalui pembiayaan kolektif. Bukan tentang besar kecil nominalnya, tetapi tentang rasa memiliki dan tanggung jawab bersama agar komunitas ini tetap hidup dan bertumbuh,” ujar pengurus.

Perjalanan menuju Pajangan juga meninggalkan kesan mendalam bagi banyak peserta. Tidak sedikit yang mengaku memperoleh pelajaran hidup selama menempuh perjalanan panjang tersebut.

Salah satu peserta menyebut kegiatan ini mengajarkan pentingnya ketekunan dan harapan.

“Dalam perjalanan ini saya belajar bahwa hidup bukan soal cepat sampai, tetapi soal tetap berjalan meski lelah,” ungkap peserta.

Nuansa persaudaraan terasa kuat sepanjang perjalanan. Peserta saling memberi semangat dan membantu ketika ada yang mulai kelelahan. Sapaan sederhana hingga dukungan kecil menjadi energi tambahan untuk terus melangkah.

“Kadang senyum dari teman di sebelah bisa membuat kita kuat berjalan lagi,” kata peserta lainnya.

Selain menekankan nilai spiritual, panitia juga memberikan perhatian besar pada aspek keamanan. Relawan motoris aktif mengawal jalur dan membantu pengaturan lalu lintas di sejumlah titik, sementara relawan kesehatan siaga memantau kondisi peserta.

Kehadiran ambulans menjadi langkah antisipasi untuk memastikan seluruh peserta merasa aman selama perjalanan berlangsung. Panitia mencatat kegiatan berjalan tanpa kendala serius.

Meski demikian, pengurus menegaskan bahwa evaluasi tetap akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan berikutnya.

“Segala kekurangan menjadi bahan evaluasi tim pengurus untuk perbaikan ke depan,” jelas pengurus.

Ketua Komunitas Tindak Ziarah, Marcellus David, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak berorientasi pada kompetisi atau siapa yang paling cepat mencapai garis akhir.

“Kami percaya setiap langkah yang diambil peserta memiliki makna. Tidak semua orang harus sampai finish untuk mendapatkan pengalaman rohani,” ujarnya.

Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang membantu menyediakan perlengkapan seperti bendera start, bendera penyeberangan, rompi relawan, hingga konsumsi berupa semangka dan ubi yang sangat membantu selama perjalanan.

Kehadiran Rm Vikaris GSPP Agustinus Toto Supriyanto, Pr turut memberikan dukungan moral dan penguatan rohani bagi para peserta. Kehadiran imam dinilai mempertegas bahwa Tindak Ziarah merupakan perpaduan antara olahraga, pelayanan, dan pertumbuhan iman.

Komunitas Tindak Ziarah sendiri dibangun dengan semangat keterbukaan dan pelayanan. Pengurus berharap komunitas ini dapat terus menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin berjalan, berdoa, dan berbagi pengalaman hidup.

“Langkah kecil yang dilakukan bersama dapat melahirkan perjalanan yang penuh makna,” ujar pengurus.

Banyak peserta mengaku pulang dengan hati lebih tenang dan pengalaman baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Meski tubuh lelah dan kaki pegal, mereka merasa mendapatkan semangat baru untuk menghadapi kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta bahkan menggambarkan Tindak Ziarah sebagai perjalanan yang “menyiksa raga tetapi memeluk jiwa”, karena kelelahan selama perjalanan justru membuka ruang refleksi yang sulit ditemukan dalam rutinitas harian.

Dengan berakhirnya Tindak Ziarah #4, Komunitas Tindak Ziarah Pringgolayan kembali menegaskan perjalanan sederhana dapat menghadirkan makna besar ketika dilakukan bersama.

Panitia pun mulai menyiapkan evaluasi dan pengembangan komunitas sebagai bekal menuju agenda berikutnya, yakni Tindak Ziarah #5.

Tags

Terkini