gaya-hidup

CEK FAKTA: Klaim Vaksin Picu Kemandulan dan Kebodohan

KS1
Sabtu, 21 Juni 2025 | 16:00 WIB
CEK FAKTA: Klaim Vaksin Picu Kemandulan dan Kebodohan. (KlikSoloNews/dok Komdigi)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Sebuah video berisi pernyataan yang mengaitkan vaksin dengan risiko kebodohan dan kemandulan kembali viral di media sosial, khususnya di platform Threads.

Video tersebut menampilkan seseorang yang diklaim sebagai dokter Agung Sapta Adi dan menyebut bahwa “vaksin dibuat sebelum penyakit muncul dan membahayakan generasi mendatang.”

Dilansir laman resmi Komdigi, klaim dalam video tersebut telah dinyatakan tidak benar dan menyesatkan oleh Tim AIS Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.

Hasil penelusuran menyebutkan bahwa narasi dalam video tersebut tidak sesuai dengan fakta ilmiah dan prinsip kesehatan masyarakat.

Dikutip dari situs turnbackhoax.id, video yang viral itu berasal dari kanal YouTube Refly Harun dengan judul “Live Dokter Agung Sapta Adi: Kesehatan yang Sakit! Intervensi Global di Balik Menteri Kesehatan RI!” yang tayang pada Oktober 2024.

Artinya, video tersebut dibuat jauh sebelum kunjungan Bill Gates ke Indonesia pada Mei 2025, sehingga tidak relevan jika dikaitkan dengan narasi globalisasi vaksin seperti yang beredar saat ini.

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menyebut bahwa klaim vaksin dibuat sebelum penyakit muncul merupakan kesalahan fatal dalam memahami konsep dasar vaksinasi.

Dalam dunia medis, vaksin justru dirancang sebagai langkah preventif untuk mencegah munculnya wabah atau penyebaran penyakit menular.

“Vaksin adalah bentuk intervensi paling efisien dan ilmiah dalam mencegah penyakit. Tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan vaksin dengan kebodohan atau kemandulan,” tegas Dicky.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial, terutama yang menyangkut kesehatan.

Setiap informasi sebaiknya diverifikasi terlebih dahulu melalui sumber resmi dan kredibel, seperti Kementerian Kesehatan, WHO, atau platform pengecekan fakta terpercaya.

Klaim soal bahaya vaksin dalam video tersebut merupakan disinformasi lama yang kembali disebarluaskan dalam konteks baru.

Video tidak menyajikan bukti ilmiah, dan pernyataan di dalamnya bertentangan dengan fakta medis yang telah terbukti selama bertahun-tahun.

Masyarakat diminta untuk lebih selektif dan waspada terhadap hoaks kesehatan yang kerap dipakai untuk membangun narasi anti-vaksinasi.

Kolaborasi antara pemerintah, pakar, dan masyarakat menjadi kunci dalam melawan disinformasi demi menjaga kesehatan publik.(ks01)

Tags

Terkini