SUKOHARJO, KLIKSOLONEWS.COM — Suasana keriangan menyelimuti gala premiere film Cocote Tonggo, karya terbaru hasil kolaborasi antara Tobali Film dan SKAK Studios di Cinema XXI The Park Solo Baru, Sukoharjo, Sabtu 10 Mei 2025, malam.
Sederet aktor dan aktris film Cocote Tonggo juga turut hadir pada event Special Screening, mulai dari Dennis Adhiswara, Ayushita, Asri Welas, Bayu Skak, Sundari Soekotjo, Ika Dihardjo, Devina Aureel, Marwoto, Yati Pesek, Brilliana Arfira, Maya Wulan.
Film bergenre komedi sosial ini merupakan buah tangan sutradara Bayu Skak dan diproduseri Sahli Himawan. Cocote Tonggo dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 15 Mei 2025.
Film ini mengisahkan keseharian pasangan muda Luki dan Murni yang tinggal di kawasan padat penduduk di kota Solo.
Meski kesehariannya tampak biasa—menjajakan jamu kesuburan—mereka justru menjadi bahan gunjingan warga karena belum dikaruniai anak.
Lewat kisah ini, Cocote Tonggo menyuguhkan komedi dengan nuansa satir sosial yang tajam, menyoroti kebiasaan masyarakat mencampuri urusan pribadi atas nama kepedulian.
Konflik utama dalam film tidak muncul dari dalam rumah tangga, melainkan dari luar: dari lirih suara-suara tetangga yang secara perlahan membentuk tekanan sosial.
Film ini mengungkap terkadang, tekanan terbesar datang bukan dari orang terdekat, melainkan dari pandangan orang-orang yang bahkan tidak memiliki kedekatan emosional dengan kita.
Salah satu kekuatan naratif film ini adalah penggambaran sosok tetangga sebagai karakter yang tampak pasif, namun sebenarnya sangat menentukan jalannya konflik. Dalam konteks masyarakat Indonesia, tetangga kerap menjadi "pengamat" yang opininya bisa berdampak lebih besar daripada keluarga sendiri.
“Kami ingin menggambarkan bagaimana tekanan sosial itu sering kali tidak datang dari orang yang kita cintai, tapi dari mereka yang bahkan tidak punya kedekatan emosional—tetapi karena kita hidup berdampingan, opini mereka menjadi begitu berpengaruh,” ujar Bayu Skak dalam Meet & Greet pemeran Cocote Tonggo usai gala premiere.
Menurut Bayu, pemilihan lokasi syuting di kawasan Laweyan dan beberapa lokasi lain di seputaran Kota Solo berhasil menghadirkan nuansa hyperlocal yang kuat dan autentik. Terlebih, geografi kawasan yang mudah dijangkau, turut mempermudah proses shooting film.
"Solo itu spesial bagi saya juga, karena ya untuk settingnya kan memang yang dicari adalah perkampungan yang ada langsung rumah-rumahnya kita bisa semuanya ada di situ, biar gak jauh-jauh shootingnya, langsung 4 sampai 5 rumah itu di Kampung Laweyan," katanya.
Lewat komedi khas Jawa yang mengalir alami, Cocote Tonggo menyampaikan kritik sosial bernas: rasa ingin tahu yang kelewat batas, komentar asal-asalan, hingga obrolan ringan di warung bisa melahirkan stigma dan asumsi buruk yang berujung petaka.
Karakter Murni, yang diperankan Ayushita, menjadi perwujudan nyata dari stigma sosial terhadap perempuan yang belum memiliki anak.
Meski digambarkan sebagai istri yang penyabar, Murni harus terus menanggung tudingan miring, seolah menjadi pihak yang paling bersalah atas keadaan tersebut.
-
Film ini menyoroti ketimpangan perspektif dalam masyarakat yang cenderung menimpakan beban keturunan pada perempuan semata. Tekanan sosial itu tak hanya melukai batin, tetapi juga bisa menggerus kepercayaan diri, bahkan merusak hubungan suami-istri.
Terima Kasih Warga Solo
Pemeran utama wanita, film Cocote Tonggo, Ayushita mengatakan, special screening ini merupakan salah satu bentuk rasa terimakasih terhadap warga Solo yang turut mendukung pembuatan film Cocote Tonggo.
"Ini sebenarnya salah satu bentuk terimakasih kami semua yang membuat film, karena sudah diberikan izin restu, sudah shooting di Laweyan, tempat yang paling legendaris di Solo. Terimakasih juga sudah ada keluarga dari ndalem kalitan," katanya.
Menurut Ayushita, selain akan menghibur masyarakat Indonesia, film Cocote Tonggo diharapkan turut mendongkrak pariwisata yang ada di Kota Solo.
"Mudah-mudahan, film jni juga bisa meningkatkan pariwisata disini mungkin, juga bisa meredam cocote tonggo yak," ucapnya.
Proses syuting dilakukan sepenuhnya di Kota Solo, dengan lokasi-lokasi seperti Kampoeng Batik Laweyan, Lokananta, dan Colomadu. Sebagian dialog dalam film menggunakan Bahasa Jawa Mataraman khas Solo, menambah nuansa lokal yang kuat dan autentik.
Kolaborasi antara TOBALI Film dan SKAK Studios menjadi kekuatan utama dalam produksi Cocote Tonggo.
Tobali Film, di bawah kepemimpinan baru Sahli Himawan, berkomitmen untuk menghadirkan film-film berkualitas yang mencerminkan nilai-nilai budaya Indonesia.
Sementara itu, SKAK Studios, yang didirikan Bayu Skak, dikenal dengan karya-karya yang mengangkat budaya lokal melalui cerita yang autentik. (KS01)