gaya-hidup

BRIN Kembangkan AI untuk Diagnosis Malaria Lebih Cepat dan Akurat di Indonesia

KS1
Kamis, 8 Mei 2025 | 10:30 WIB
BRIN Kembangkan AI untuk Diagnosis Malaria Lebih Cepat dan Akurat di Indonesia. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan sensitivitas dan akurasi diagnosis malaria di Indonesia.


Inisiatif ini bertujuan mempercepat deteksi dini dan pengobatan, terutama di wilayah terpencil yang akses layanannya masih terbatas.


Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Puji Budi Setia Asih, menyampaikan bahwa malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia.


Dalam diskusi daring yang digelar di Jakarta pada Rabu, ia menjelaskan bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti Puskesmas masih mengandalkan metode diagnosis mikroskopis dan Rapid Diagnostic Test (RDT), yang dinilai belum cukup cepat dan akurat.


“Pendekatan mikroskopis berbasis kecerdasan buatan akan membantu meningkatkan sensitivitas dan akurasi diagnostik, yang merupakan prasyarat penting untuk eliminasi malaria,” ujar Puji.


Ia menekankan pentingnya sistem diagnosis yang akurat sebagai dasar penentuan pengobatan dan penilaian tingkat keparahan penyakit pada pasien.


Pengembangan riset ini dilakukan secara kolaboratif bersama Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS) BRIN.


Namun, riset ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti belum adanya standarisasi dalam pewarnaan gambar mikroskopis darah yang akan digunakan sebagai data input sistem AI.


Kepala PRKAKS BRIN, Anto Satriyo Nugroho, menjelaskan bahwa sistem AI yang dikembangkan dirancang untuk secara otomatis mengidentifikasi status infeksi malaria dengan menganalisis citra mikroskopis sediaan darah tipis dan tebal.


“Data yang kami gunakan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Ini memungkinkan sistem mengenali berbagai spesies parasit malaria yang ada di Tanah Air,” jelas Anto.


Ia menambahkan teknologi ini menggunakan teknik ekstraksi fitur morfo-geometris untuk mengenali ukuran dan bentuk sel darah yang terinfeksi parasit.


Meski begitu, salah satu tantangan besar adalah perubahan morfologi parasit sepanjang siklus hidupnya, yang bisa mempengaruhi akurasi sistem.


Meski dihadapkan pada berbagai hambatan teknis, Anto tetap optimistis teknologi ini akan menjadi alat diagnosis yang andal dan berkontribusi signifikan dalam upaya pemberantasan malaria di Indonesia.(KS01)

Tags

Terkini