SOLO, KLIKSOLONEWS.COM — Generasi Z (Gen Z) yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, kini tengah menjadi sorotan di dunia kerja. Di satu sisi, mereka digambarkan sebagai generasi paling kreatif dan literat teknologi.
Namun di sisi lain, mereka juga dikenal sebagai kelompok yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan mental, kelelahan, hingga rasa kesepian.
Berbagai survei internasional menunjukkan angka yang cukup mencemaskan. Laporan dari Deloitte (2023) mencatat bahwa 36 persen pekerja Gen Z merasa cepat lelah dan tidak puas terhadap pekerjaan mereka, yang kerap berujung pada fenomena quiet quitting yakni mengundurkan diri secara diam-diam tanpa konfrontasi langsung.
Sementara itu, laporan dari Cigna International Health mengungkap bahwa 91 persen Gen Z mengalami gejala depresi, dan survei Forbes bahkan menyebut 75 persen dari mereka merasa kesepian, menjadikan Gen Z sebagai generasi paling kesepian saat ini.
Dalam konteks Indonesia, data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan bahwa 5,5 persen remaja usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental dalam satu tahun terakhir. Ini mencerminkan bahwa krisis kesehatan mental tidak hanya terjadi di luar negeri, tapi juga menjadi persoalan nyata di dalam negeri.
Paparan teknologi yang intens sejak dini membuat Gen Z sangat melek digital. Namun hal ini juga membawa efek samping. Mudahnya akses terhadap media sosial membuat mereka rentan terhadap tekanan sosial dan ekspektasi tidak realistis.
“Gen Z tumbuh dengan melihat gaya hidup influencer dan standar kesuksesan instan. Akibatnya, banyak dari mereka yang merasa kurang puas terhadap pencapaian diri sendiri,” ungkap psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Nadya Ayu Rahma, dalam sebuah diskusi daring.
Fenomena ini turut berdampak pada orientasi kerja Gen Z. Banyak dari mereka lebih memilih pekerjaan fleksibel dengan gaji lebih kecil, asalkan bisa remote working dan terhindar dari tekanan lingkungan kantor.
“Mereka tidak malas. Mereka hanya tidak ingin mengorbankan kesehatan mental demi profesionalitas yang tidak manusiawi,” tambah Dr. Nadya.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Gen Z mencakup sekitar 28 persen dari total populasi Indonesia yang kini mencapai lebih dari 270 juta jiwa. Dengan angka sebesar itu, Gen Z memegang peranan penting dalam pembangunan negara di masa depan.
Pengamat ketenagakerjaan dari Lembaga Demografi UI, Dr. Dwi Purnomo, menilai bahwa potensi besar ini perlu dioptimalkan lewat pendekatan kerja yang lebih adaptif dan empatik.
“Gen Z bisa jadi penggerak ekonomi digital dan kreatif, asal mereka diberi ruang untuk berkembang, didampingi, dan tidak terus dibebani oleh standar generasi sebelumnya,” tegasnya. (KS06)