KLIKSOLONEWS.COM — Ubasute, sebuah tradisi yang dikenal dalam cerita rakyat Jepang, menggambarkan praktik pembuangan orang tua yang telah lanjut usia atau sakit ke tempat terpencil untuk dibiarkan meninggal.
Meskipun belum terbukti secara historis sebagai praktik nyata, tradisi ini menjadi simbol reflektif atas relasi antara keluarga, usia tua, dan kondisi sosial-ekonomi yang menekan.
Dalam bahasa Jepang, “ubasute” secara harfiah berarti “membuang nenek”. Tradisi ini dikisahkan dilakukan oleh anak laki-laki yang menggendong ibunya ke gunung atau hutan sunyi, kemudian meninggalkannya demi mengurangi beban keluarga, terutama di tengah kelaparan dan kemiskinan ekstrem.
Salah satu lokasi yang paling sering disebut dalam cerita ubasute adalah Hutan Aokigahara, yang kini lebih dikenal sebagai hutan bunuh diri di kaki Gunung Fuji.
Meskipun tradisi ini tak lagi dilakukan di zaman modern dan sering dianggap bagian dari dongeng rakyat, praktik serupa ternyata masih dapat ditemukan dalam bentuk yang berbeda.
Dalam konteks modern, 'ubasute' digambarkan sebagai tindakan menitipkan orang tua ke panti jompo atau lembaga sosial, seringkali tanpa perhatian dan kunjungan dari keluarga.
Fenomena ini bukan semata-mata bentuk penelantaran, melainkan hasil dari tekanan ekonomi, keterbatasan ruang, hingga perubahan gaya hidup generasi muda di kota-kota besar.
Fenomena ubasute modern tidak hanya terjadi di Jepang. Di banyak negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, hingga Korea Selatan, peningkatan tajam jumlah lansia juga berbanding lurus dengan bertambahnya fasilitas panti jompo.
Namun, tak semua fasilitas memberikan perawatan layak, dan tidak sedikit lansia yang mengalami isolasi sosial.
Ubasute, meski dianggap mitos masa lalu, telah menjadi simbol kekhawatiran sosial di era kini, tentang bagaimana manusia memperlakukan orang tuanya saat mereka tak lagi produktif.
Kisah ini kini menjadi cermin tentang pentingnya menata kembali sistem sosial dan budaya kita, agar lansia tidak lagi menjadi beban yang dibuang, tetapi sosok yang dirawat dan dihormati. (KS06)