gaya-hidup

Dari Surjan hingga Tui-Khim: Menggali Akar Budaya di Balik Baju Koko

Minggu, 6 April 2025 | 11:11 WIB
Di balik desainnya yang sederhana dan kesan religius yang kuat, baju koko menyimpan kisah panjang lintas budaya yang membentuk identitas fashion pria muslim Indonesia hari ini. (Foto: Shutterstock)

KLIKSOLONEWS.COM - Baju koko bukan hanya sekadar busana ibadah yang dikenakan saat bulan Ramadan atau salat Jumat. Ia adalah saksi bisu dari interaksi budaya, agama, dan gaya hidup yang telah berlangsung selama berabad-abad di Nusantara.

Di balik desainnya yang sederhana dan kesan religius yang kuat, baju koko menyimpan kisah panjang lintas budaya yang membentuk identitas fashion pria muslim Indonesia hari ini.

Asal-usul baju koko dapat ditelusuri ke komunitas Tionghoa yang datang dan menetap di Indonesia pada awal abad ke-20. Mereka membawa serta pakaian tradisional bernama tui-khim, kemeja lengan panjang berkerah tegak yang nyaman dan fungsional.

Di kalangan masyarakat Betawi, tui-khim kemudian dikenal sebagai baju tikim dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seiring waktu, istilah “engkoh”, sapaan khas untuk pria Tionghoa, melahirkan nama yang kini begitu akrab di telinga: baju koko.

Menariknya, kisah baju koko tidak hanya berhenti pada pengaruh Tionghoa. Dalam catatan sejarah Islam di Jawa, terdapat tokoh legendaris Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai pelopor dakwah kultural.

Sunan Kalijaga  memodifikasi pakaian tradisional surjan menjadi baju takwa, busana panjang berkerah tegak dengan detail kancing yang melambangkan lima rukun Islam. Ciri khas ini kemudian menyatu dalam desain baju koko masa kini, yang semakin menegaskan posisinya sebagai simbol spiritual sekaligus budaya.

Seiring perkembangan industri fashion muslim di Indonesia, baju koko pun mengalami transformasi yang mencolok. Kini, desainer lokal mengusung baju koko dalam berbagai varian gaya: potongan slim-fit, permainan motif etnik, bahan linen atau katun Jepang, hingga desain futuristik bernuansa monokrom.

Baju koko bahkan tampil di runway, dikenakan selebritas, hingga menjadi koleksi andalan label fashion ternama seperti Elzatta, Shafira, hingga Buttonscarves Men.

Menurut Global Islamic Economy Report 2023, belanja fashion muslim global telah mencapai angka lebih dari 295 miliar dolar AS dan diperkirakan akan meningkat menjadi 375 miliar dolar pada 2025.

Indonesia, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, berada di barisan terdepan dalam geliat modest fashion, termasuk bagi kalangan pria. Permintaan terhadap produk seperti baju koko terus tumbuh, tak hanya untuk keperluan ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari penampilan harian yang tetap santun namun bergaya.

Baju koko saat ini bukan hanya pakaian spiritual namun juga mencerminkan gaya hidup sehari-hari. Buktinya, banyak yang mengenakan baju koko untuk ke kantor, nongkrong hingga menghadiri acara semiformal.

Baju koko menjadi contoh nyata bagaimana tradisi tidak harus menjadi beban masa lalu, tetapi bisa menjadi inspirasi gaya masa depan. (KS06)

Tags

Terkini