gaya-hidup

Lebaran Ketupat, Tradisi Sakral di Pulau Jawa yang Sarat Makna Filosofis

Jumat, 4 April 2025 | 11:26 WIB
Lebaran Ketupat dirayakan sebagai bentuk syukur setelah menjalani puasa sunah enam hari di bulan Syawal, sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. (Foto: Pinterest)

KLIKSOLONEWS.COM - Lebaran tak hanya berhenti pada satu atau dua hari perayaan setelah Idulfitri. Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, tradisi unik bernama Lebaran Ketupat masih dijaga dan dirayakan hingga kini. Tahun ini, Lebaran Ketupat jatuh pada Senin, 7 April 2025, bertepatan dengan 8 Syawal 1446 H, tepat satu minggu setelah Idulfitri.

Berbeda dari perayaan Idulfitri yang dirayakan secara nasional, Lebaran Ketupat lebih bersifat kultural dan religius.

Tradisi ini dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, serta beberapa wilayah di Madura dan pesisir utara Jawa.

Lebaran Ketupat dirayakan sebagai bentuk syukur setelah menjalani puasa sunah enam hari di bulan Syawal, sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Meski tidak memiliki dasar langsung dalam Al-Qur’an atau Hadis sebagai hari raya resmi, Lebaran Ketupat memiliki akar sejarah kuat dalam dakwah Islam Nusantara.

Menurut berbagai sumber sejarah, tradisi ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo, yang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa. Ia memperkenalkan dua momen Lebaran: Bakda Lebaran (Idulfitri) dan Bakda Kupat (Lebaran Ketupat).

Dari segi filosofi, ketupat atau kupat merupakan akronim dari ungkapan dalam Bahasa Jawa, "ngaku lepat" yang berarti mengakui kesalahan. Bungkus ketupat yang rumit melambangkan keruwetan hidup manusia dan kesalahan yang perlu diselesaikan, sementara isi putih di dalamnya merepresentasikan hati yang kembali bersih usai meminta maaf.

Lebaran Ketupat pun diwarnai dengan ritual kenduri atau selametan, di mana masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama. Ketupat disajikan dengan berbagai lauk khas seperti opor ayam, sayur labu bersantan, sambal goreng ati, dan tak jarang ditaburi bubuk kedelai.

Tak hanya di rumah, tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi massal di kampung-kampung dan tempat wisata, terutama di daerah pesisir seperti Jepara, Kudus, hingga Gresik.

Bahkan di beberapa daerah, seperti di Pulau Madura dan Gresik, perayaan Lebaran Ketupat dilengkapi dengan tradisi larung sesaji di laut sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan keselamatan.

Dari perspektif sosial budaya, Lebaran Ketupat bukan hanya sekadar makan ketupat, melainkan momentum mempererat hubungan antarsesama dan memperkuat nilai-nilai lokal yang telah bersinergi dengan ajaran Islam selama ratusan tahun.

Tradisi ini membuktikan bahwa Islam di Indonesia tumbuh selaras dengan budaya lokal, tanpa menghapus identitas, tetapi memperkaya makna spiritual masyarakat.

Di tengah arus modernitas dan budaya instan, pelestarian tradisi seperti Lebaran Ketupat menjadi oase yang menyejukkan—mengajak untuk kembali ke akar, ke jati diri, dan ke makna hakiki dari sebuah perayaan: mensyukuri hidup dan memperbaiki hubungan dengan sesama. (KS06)

Tags

Terkini