gaya-hidup

Bogamania! Filosofi Ketupat: Makna Mendalam di Balik Hidangan Khas Lebaran

Jumat, 28 Maret 2025 | 10:51 WIB
Hidangan khas Lebaran, ketupat memiliki makna filosofi yang mendalam. (Foto: Unsplash/Mufid Majnun)

KLIKSOLONEWS.COM - Ketupat menjadi salah satu ikon kuliner yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Jawa.

Hidangan khas yang terbuat dari beras yang dibungkus anyaman daun janur ini tidak sekadar pelengkap santapan Lebaran bersama opor ayam dan sambal goreng, tetapi juga memiliki filosofi mendalam yang diwariskan turun-temurun.

Secara etimologis, kata "ketupat" berasal dari akronim dalam Bahasa Jawa, yakni ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan, serta laku papat atau empat tindakan yang menjadi pedoman dalam menyambut hari kemenangan.

Tradisi ngaku lepat biasanya diwujudkan dalam bentuk sungkeman, di mana seorang anak bersimpuh di hadapan orang tua untuk meminta maaf.

Ritual ini bukan sekadar simbolisasi, tetapi juga mengajarkan nilai penghormatan kepada orang tua serta pentingnya rendah hati dan ikhlas dalam meminta restu serta bimbingan mereka. Selain kepada orang tua, prosesi meminta maaf juga dilakukan kepada sanak keluarga, tetangga, dan sesama, mencerminkan nilai kebersamaan dan keharmonisan sosial.

Adapun laku papat terdiri dari empat konsep utama, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Lebaran bermakna akhir atau usai, menandakan berakhirnya Ramadan dan datangnya hari kemenangan.

Luberan berasal dari kata "meluber" atau melimpah, yang mengandung pesan pentingnya berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang kurang mampu, sesuai dengan tradisi zakat fitrah yang dilakukan sebelum Idul Fitri.

Selanjutnya, leburan bermakna melebur, menggambarkan momen di mana dosa dan kesalahan yang telah lalu dihapus dengan saling memaafkan.

Sedangkan laburan, yang berasal dari kata "labur" atau "kapur", melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah menjalani ibadah Ramadan, layaknya dinding yang dicat ulang agar tampak bersih dan baru.

Ketupat, dengan segala filosofinya, menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan dengan keluarga serta lingkungan, dan kembali menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebuah tradisi yang bukan hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan nilai-nilai luhur yang terus relevan sepanjang masa. (KS06)

Tags

Terkini