KLIKSOLONEWS.COM — Tari Indang atau yang lebih dikenal dengan Tari Dindin Badindin merupakan salah satu warisan budaya khas Minangkabau yang kental dengan nilai-nilai Islam. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Sumatera Barat.
Menurut buku Pembudayaan Literasi Seni di SD (2020) karya Mansurdin, Tari Indang mulai berkembang pada masa dakwah Islam yang dibawa oleh Syekh Burhanudin. Penyebaran Islam di wilayah pesisir Minangkabau pada masa itu terjadi melalui jalur perdagangan yang mempertemukan pedagang Arab dengan masyarakat setempat. Proses ini memunculkan akulturasi budaya Minang dengan ajaran Islam, yang kemudian dituangkan dalam berbagai kesenian, termasuk Tari Indang.
Salah satu ciri khas Tari Indang adalah iringan musik yang disertai selawat nabi atau syair-syair Islami. Tidak heran jika tarian ini sering ditampilkan dalam acara keagamaan, salah satunya dalam upacara Tabuik yang memperingati wafatnya cucu Rasulullah, Imam Husain, setiap tanggal 10 Muharram.
Dari segi gerakan, Tari Indang sering disamakan dengan Tari Saman dari Aceh. Namun, tarian khas Minang ini memiliki gerakan yang lebih dinamis dan santai, meskipun tetap rancak dan penuh semangat.
Pada awalnya, Tari Indang hanya dibawakan oleh tujuh orang pria. Seiring perkembangan zaman, tarian ini juga dapat ditampilkan oleh perempuan, dengan jumlah penari yang fleksibel selama tetap berjumlah ganjil, seperti 7, 9, 11, atau 13 orang.
Gerakan pertama dalam Tari Indang dimulai dengan dua kelompok penari yang masuk dan berjajar dari kiri ke kanan. Setelah itu, mereka duduk dan melakukan gerakan variasi. Selanjutnya, penari bersila dan meletakkan indang—alat musik kecil berbentuk seperti rebana—di hadapan mereka, lalu memberikan sikap hormat dengan kedua telapak tangan di dada.
Dari segi busana, penari Tari Indang diwajibkan mengenakan pakaian adat khas Melayu sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan tradisi Minangkabau. Sementara itu, para pengiring atau tukang zikir dapat mengenakan pakaian apa saja, asalkan tetap rapi dan sopan.
Sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, Tari Indang masih eksis hingga saat ini dan sering ditampilkan dalam berbagai acara kebudayaan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Di tengah perkembangan zaman, banyak sanggar seni yang terus melestarikan tarian ini dengan tetap mempertahankan unsur-unsur tradisionalnya. (KS06)