KLIKSOLONEWS.COM - Fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak semakin menjadi sorotan di Indonesia. Tidak hanya terjadi karena perceraian atau kematian, kondisi ini juga dipicu oleh pola pikir tradisional dan kesibukan pekerjaan yang membuat ayah secara fisik ada, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anak mereka.
Laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2022 mengungkapkan bahwa sekitar 24 juta anak di Indonesia tidak mendapatkan perhatian memadai dari figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.
Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 16,56 persen anak usia 7–18 tahun berasal dari keluarga tanpa kehadiran ayah secara aktif.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah, menegaskan ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan membawa dampak signifikan terhadap tumbuh kembang anak.
“Minimnya peran ayah tidak hanya memengaruhi stabilitas emosi anak, tetapi juga berisiko menyebabkan masalah perilaku dan penurunan prestasi akademik,” ujar Ai dikutip dari sebuah sumber.
Penelitian dari The Fatherless Generation menunjukkan bahwa 85 persen anak dengan gangguan perilaku berasal dari keluarga tanpa figur ayah yang aktif. Laporan dari National Center for Fathering menyebutkan bahwa 71 persen anak yang putus sekolah di dunia berasal dari keluarga fatherless.
Dampak dari fenomena ini semakin nyata di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, di mana banyak ayah bekerja lebih dari 10 jam sehari dan memiliki keterlibatan minimal dalam keluarga.
Prof. Dr. Ida Ruwaida, sosiolog dari Universitas Indonesia, menekankan bahwa tuntutan ekonomi memang menjadi faktor utama, tetapi peran ayah seharusnya tidak hanya sebatas penyedia nafkah.
“Kehadiran ayah bukan sekadar fisik, tetapi juga emosional. Anak membutuhkan interaksi langsung dengan sosok ayah agar tumbuh dengan kepercayaan diri dan keseimbangan emosional yang baik,” jelasnya.
Untuk mengatasi fenomena ini, pemerintah menggalakkan program Keluarga Hebat 2030, yang bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Selain itu, komunitas seperti Gerakan Ayah Hebat Indonesia juga aktif mengedukasi para ayah agar lebih sadar akan peran mereka dalam keluarga.
Fenomena fatherless bukan hanya permasalahan keluarga, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang terhadap generasi mendatang.
Tanpa kehadiran ayah yang aktif, anak-anak berisiko mengalami gangguan psikologis, kesulitan dalam hubungan sosial, hingga terjerumus dalam perilaku negatif. Saatnya mengubah pola pikir bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu, tetapi tanggung jawab bersama.