SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Putus cinta bukan sekadar perpisahan fisik, tetapi juga perpisahan emosional yang sering kali sulit dihadapi.
Salah satu tantangan terbesar setelah hubungan berakhir adalah fase relapse, yaitu kondisi di mana seseorang kembali terjebak dalam kenangan masa lalu dan merasakan dorongan untuk menghidupkan kembali hubungan yang telah usai.Ilust
Fenomena ini umum terjadi dan dapat menghambat proses pemulihan emosional jika tidak disikapi dengan tepat.
Menurut psikolog klinis Guy Winch dalam bukunya How to Fix a Broken Heart (2018), otak manusia memproses putus cinta layaknya gejala putus obat.
Studi dari Journal of Neurophysiology (2010) menunjukkan bahwa kehilangan seseorang yang dicintai dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan kecanduan zat tertentu.
Hal inilah yang membuat fase relapse begitu kuat, bahkan bagi mereka yang sudah berusaha move on.
Salah satu pemicu utama fase relapse adalah rasa kesepian. Ketika seseorang terbiasa mendapatkan dukungan emosional dari pasangannya, kehilangan tersebut menciptakan kekosongan yang sulit diisi.
Kenangan indah cenderung lebih dominan dalam ingatan dibandingkan konflik yang menyebabkan perpisahan, sehingga seseorang bisa terjebak dalam ilusi bahwa hubungan tersebut masih bisa diperbaiki.
Faktor sosial juga berperan dalam memicu relapse. Tekanan dari lingkungan, seperti dorongan teman atau keluarga untuk memberikan kesempatan kedua, sering kali membuat seseorang ragu dengan keputusannya.
Kebiasaan memantau aktivitas mantan melalui media sosial dapat memperburuk situasi, karena terus-menerus melihat kehidupannya setelah perpisahan dapat memicu emosi negatif.
Mengatasi fase relapse memerlukan kesadaran dan komitmen untuk benar-benar melepaskan diri dari masa lalu. Membatasi kontak dengan mantan, baik secara langsung maupun di media sosial, adalah langkah pertama yang dapat membantu.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking (2012), individu yang terus memantau akun mantan cenderung mengalami kesulitan lebih besar dalam move on dibandingkan mereka yang benar-benar membatasi akses.
Mengalihkan perhatian ke kegiatan positif juga menjadi cara efektif untuk mengurangi intensitas fase relapse.
Berolahraga, mengeksplorasi hobi baru, atau bergabung dalam komunitas yang mendukung dapat membantu seseorang fokus pada pertumbuhan pribadi.
Mencari dukungan emosional dari teman dan keluarga juga penting agar seseorang tidak merasa sendirian dalam proses pemulihan.
Fase relapse bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan emosional yang wajar setelah kehilangan seseorang yang dicintai. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang merespons fase ini—apakah kembali terjebak dalam pola lama atau memilih untuk bangkit dan membangun kehidupan baru.
Dengan memahami mekanisme di balik relapse dan menerapkan strategi yang tepat, seseorang dapat mempercepat proses penyembuhan dan benar-benar melangkah maju. (KS06)