gaya-hidup

Fatherless Effect: Minimnya Peran Ayah dan Krisis Kesehatan Mental Anak

Sabtu, 15 Februari 2025 | 12:20 WIB
Ilustrasi kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan anak. (Foto: Unsplash/Brittani Burns)

KLIKSOLONEWS.COM - Fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak semakin menjadi perhatian di Indonesia.

Bukan hanya karena faktor perceraian atau kematian, tetapi juga akibat tuntutan pekerjaan dan pola pikir tradisional yang menganggap pengasuhan sebagai tanggung jawab utama ibu.

Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam kehidupan keluarga, tetapi juga memengaruhi stabilitas emosional dan perkembangan sosial anak.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2022, sekitar 24 juta anak di Indonesia mengalami keterbatasan interaksi dengan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.

Sementara itu, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 16,56 persen anak usia 7–18 tahun berasal dari keluarga yang ayahnya tidak aktif berperan dalam pengasuhan.

Minimnya kehadiran ayah dalam kehidupan anak membawa konsekuensi serius terhadap perkembangan psikologis dan perilaku mereka. Menurut The Fatherless Generation, 85 persen anak dengan gangguan perilaku berasal dari keluarga tanpa figur ayah.

Mereka cenderung mengalami kesulitan dalam membangun rasa percaya diri, rentan terhadap depresi, serta memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terlibat dalam kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah, menegaskan bahwa kehadiran ayah berperan penting dalam membentuk keseimbangan emosi anak.

"Minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik dan peningkatan risiko perilaku agresif," ujar Ai.

Fenomena ini semakin diperparah oleh tuntutan ekonomi yang membuat banyak ayah harus bekerja lebih dari 10 jam sehari, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ida Ruwaida, mengungkapkan bahwa perubahan pola keluarga akibat urbanisasi dan kebutuhan ekonomi memaksa banyak ayah mengorbankan keterlibatan emosional dengan anak demi mencari nafkah.

Namun, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah melalui program Keluarga Hebat 2030 terus mengkampanyekan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.

Di sisi lain, komunitas seperti Gerakan Ayah Hebat Indonesia turut memberikan edukasi dan pendampingan agar para ayah lebih sadar akan tanggung jawab emosional mereka.

Kesadaran akan pentingnya peran ayah dalam keluarga menjadi kunci dalam menciptakan generasi muda yang lebih stabil secara emosional dan sosial.

Jika fenomena fatherless tidak segera diatasi, dampaknya bisa berlarut hingga ke generasi mendatang, memengaruhi kualitas sumber daya manusia. (KS06)

Tags

Terkini