gaya-hidup

Journey of The Rock In Solo 2024, Pilih Kali Pepe Land Jadi Venue Utama

KS1
Selasa, 19 November 2024 | 00:03 WIB
Journey of The Rock In Solo 2024, Pilih Kali Pepe Land Jadi Venue Utama. (KlikSoloNews/Adhirajasa)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Journey of The Rock In Solo 2024 memilih Kali Pepe Land jadi venue utama.

Musik keras tak hanya soal dentuman drum dan raungan gitar, tetapi juga wadah ekspresi, perlawanan, dan kebersamaan.

Rock In Solo Festival, yang memasuki usia 20 tahun pada 2024, adalah bukti bahwa musik keras di Indonesia bukan sekadar genre, melainkan gerakan budaya yang terus berkembang.

Rock in Solo XX akan digelar di Kali Pepe Land, Banaran, Gagaksipat Ngemplak, Colomadu, Boyolali pada Sabtu 14 Desember 2024, dengan 20 grup rock cadas dalam dan luar negeri.

Venue di Kali Pepe Land, Boyolali, bukan hanya sekadar lokasi, tetapi simbol sinergi antara musik keras dan perkembangan wilayah.

Dengan area seluas 4 hektare, fasilitas lengkap seperti musala, toilet, area kuliner, hingga ruang bermain anak membuat Rock In Solo tak hanya ramah metalheads, tetapi juga keluarga.

Dewan Jenderal Rock in Solo, Stephanus Adjie menyampaikan, Rock in Solo XX tahun ini merupakan momentum untuk merefleksi perjalanan panjang yang telah dilalui sejak pertama kali digelar pada 2004 lalu.

“Karena itu, tajuk yang kami usung ialah A Journey of Rock i Solo XX. Maksudnya ialah awal semangat dimulainya dahulu sekaligus ucapan terima kasih kami kepada masyarakat karena telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Rock in Solo,” kata Adjie saat konferensi pers di Taman Balekambang, Senin 18 November 2024, siang.

Perjalanan dua dekade Rock In Solo adalah kisah inspiratif tentang ketekunan. Mulai dari panggung kecil di gedung olahraga hingga lokasi strategis seperti alun-alun kota, Rock In Solo telah menjadi simbol perjalanan panjang musik keras di Tanah Air.

Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Dari 2016 hingga 2020, Rock In Solo mengalami fase "mati suri," nyaris menghilang dari radar para penggemar.

Tetapi pada 2021, dengan keberanian luar biasa, festival ini kembali melalui A Journey of Rock In Solo: Apokaliptika, sebuah konser yang digelar di tengah pandemi.

Momen tersebut tidak hanya menandai kembalinya festival ini, tetapi juga menyuarakan harapan bagi dunia musik keras di Indonesia.

Adjie menguraikan, festival musik cadas internasional ini akan dilaksanakan selama satu hari dengan tiga panggung pertunjukan yang tersebar di tiga titik di Kali Pepe Land, yakni panggung Rajamala, XX, dan Sakjose.

Untuk dua panggung pertama itu nantinya akan diisi oleh grup band penampil A Journey of Rock in Solo XX dari mancanegara, seperti Wormrot dari Singapura, Dark Mirror of Tragedy dari Korea Selatan, serta beberapa grup penampil dari dalam negeri, seperti Koil, Down for Life, Kapital, Turtles Jr, Kenya, Hantam, Sprayer, Suabakar, Fornicaras, Senja dalam Prosa, Unity 23, Sisi Selatan, Numeron, Torment, Sunday Sad Story, Eden Adversary, dan Knog of Freedom.

Sementara itu, panggung Sakjose nantinya akan digunakan untuk penampilan beragam genre musik lainnya, seperti elektrik, hiphop, hingga noise dengan grup penampil seperti, MTAD (DJ Set), Rhyme Protect, Metzdub, Bengawan Noise Syndicate, serta Leisure.

“Dengan adanya tiga panggung yang mencerminkan kebudayaan sekitar dan band dengan beragam genre musik itu menunjukkan panjangnya perjalanan kami serta banyaknya pihak yang telah bersama-sama menghidupkan ekosistem musik di Solo dan Indonesia,” jelasnya.

-
Journey of The Rock In Solo 2024, Pilih Kali Pepe Land Jadi Venue Utama. (KlikSoloNews/Adhirajasa)

Keunikan Rock In Solo terletak pada program pendukungnya yang membangun ruang bagi penggemar dan pelaku musik keras.

Rockmarket, bukan sekadar pasar merchandise, tetapi tempat di mana para penggemar dapat mendukung band favorit mereka.

Rockcon, diskusi interaktif untuk mempertemukan pelaku industri dan komunitas musik keras, membahas masa depan genre ini di Indonesia.

"Band Submission, yakni peluang bagi band pendatang baru untuk tampil di panggung besar, membawa semangat regenerasi dalam musik keras," terangnya.

Antusiasme terhadap festival ini terlihat dari penjualan tiket kategori Early Bird yang habis dalam waktu kurang dari satu jam. Tiket kategori lain, mulai dari Rp 33.333 hingga Rp 150.000, masih tersedia di situs resmi Artatix.

Dalam kesempatan yang sama, Sosiolog Urban Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Akhmad Ramdon menyampaikan, dalam refleksi 20 tahun perjalanan Rock in Solo ini diketahui telah terjadi transformasi yang signifikan dari Rock in Solo.

Menurut dia, Rock in Solo telah mengubah dirinya menjadi entitas yang lebih besar daripada sebuah perkumpulan pecinta musik rock.

“Kita tahu pada awal digelarnya Rock in Solo di Stadion Manahan pada 2004 lalu itu sebatas sebagai euforia menyambut Piala Euro 2004. Di situ, pecinta sepak bola dan musik berhimpun menggelar perayaan,” kata Ramdon.

Rock In Solo adalah cerita tentang mimpi yang dirawat dengan dedikasi. Dalam setiap dentuman musiknya, ada semangat yang terus bergema: menyatukan, memberdayakan, dan merayakan keragaman musik keras.

Dua dekade adalah awal yang panjang untuk festival yang kini tak hanya menjadi milik Solo, tetapi milik Indonesia. (KS01)

Tags

Terkini