BANTUL, KLIKSOLONEWS.COM - Kegiatan Tindak Ziarah #4 yang digelar Komunitas Gereja Santo Paulus Pringgolayan di Bantul menghadirkan pengalaman spiritual yang membekas bagi para pesertanya.
Perjalanan kaki sejauh kurang lebih 25 kilometer menuju Taman Doa Wajah Kerahiman Allah Pajangan pada Minggu (17/5/2026) bukan sekadar aktivitas olahraga, tetapi menjadi ruang refleksi hidup dan perjalanan iman.
Sejak pukul 04.30 WIB, para peserta mulai berkumpul di Gereja Santo Paulus Pringgolayan dengan semangat tinggi. Sebagian besar datang dengan niat sederhana, yakni berolahraga sambil mencoba pengalaman baru. Namun perjalanan panjang yang mereka tempuh ternyata memberikan makna yang jauh lebih dalam.
Salah satu peserta asal Paroki Pringwulung, Kaka Aryoni, mengaku awalnya hanya menganggap kegiatan tersebut sebagai jalan sehat biasa. Ia tidak menyangka perjalanan itu justru menjadi pengalaman batin yang menyentuh.
“Saya awalnya hanya berpikir ini seperti jalan sehat biasa. Sekalian olahraga, sekalian cari berkat. Tetapi ternyata perjalanan ini memberikan pengalaman batin yang luar biasa,” ujarnya.
Perjalanan menuju Pajangan membawa peserta melewati berbagai kondisi jalan, mulai kawasan perkotaan hingga jalur menanjak yang cukup menguras tenaga. Ketika matahari mulai meninggi, rasa lelah perlahan mulai dirasakan para peserta.
Namun justru di tengah kelelahan itu, banyak peserta menemukan pelajaran hidup yang sederhana tetapi mendalam. Perjalanan tersebut dianggap sebagai simbol kesetiaan, keteguhan, dan ketekunan dalam menjalani kehidupan.
Kesetiaan terlihat dari tekad peserta untuk terus melangkah meski tubuh mulai lelah. Keteguhan muncul ketika langkah terasa berat tetapi semangat tetap menyala. Sementara ketekunan tercermin dari cara para peziarah menikmati setiap proses perjalanan tanpa menyerah.
“Kadang kita ingin cepat sampai, tetapi perjalanan ini mengajarkan bahwa hidup tidak bisa selalu terburu-buru. Kita harus menikmati prosesnya,” kata salah seorang peserta lainnya.
Nuansa persaudaraan juga menjadi bagian paling berkesan selama kegiatan berlangsung. Tidak ada sekat sosial di antara peserta. Semua berjalan bersama sebagai peziarah yang saling mendukung dan menguatkan.
Sapaan sederhana seperti memberi semangat kepada peserta lain menjadi energi besar di sepanjang perjalanan. Ketika ada peserta mulai tertinggal karena kelelahan, peserta lain dengan sukarela berjalan mendampingi.
“Saat kaki mulai tidak kuat, ternyata senyum teman di samping bisa menjadi tenaga tambahan. Kami seperti saling menjadi power bank satu sama lain,” ujar seorang peserta sambil tertawa.
Relawan Motoris
Komunitas Tindak Ziarah memang dikenal mengedepankan budaya gotong royong dan kebersamaan.
Pengurus komunitas menjelaskan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan dilakukan secara kolektif peserta usai kegiatan selesai. Cara tersebut diterapkan untuk membangun rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap komunitas.
Tindak Ziarah #4 diikuti 78 peserta dan mendapat dukungan dari 10 relawan motoris, tiga relawan kesehatan, serta dua relawan dokumentasi. Panitia juga menyediakan ambulans, kendaraan logistik, dan dua unit bus pendukung demi memastikan kegiatan berjalan aman dan nyaman.
Para relawan motoris bertugas mengawal perjalanan dan membantu pengamanan jalur, sedangkan tim kesehatan aktif memantau kondisi peserta selama perjalanan berlangsung. Kehadiran relawan menjadi bentuk nyata semangat pelayanan dalam komunitas tersebut.
Selain itu, kegiatan juga mendapat dukungan dari para donatur yang membantu menyediakan berbagai perlengkapan dan konsumsi tambahan seperti semangka dan ubi untuk para peserta.
Setibanya di Taman Doa Wajah Kerahiman Allah Pajangan, suasana hening dan damai langsung menyambut para peziarah. Banyak peserta memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa, duduk tenang, dan merefleksikan perjalanan yang baru saja mereka lalui.
Bagi sebagian peserta, perjalanan panjang itu menjadi simbol kehidupan manusia yang penuh tantangan. Dalam hidup, manusia sering menghadapi rasa lelah, tanjakan, bahkan keinginan menyerah. Namun harapan dan tujuan membuat setiap langkah tetap bisa dilanjutkan.
Panitia menyebut kegiatan berjalan aman, lancar, dan penuh kebersamaan. Meski terdapat sejumlah evaluasi teknis, secara keseluruhan kegiatan dinilai berhasil memberikan pengalaman positif bagi seluruh peserta.
Tidak ada target kompetitif dalam kegiatan ini. Setiap peserta dihargai atas keberanian mereka mengambil langkah dan bertahan sesuai kemampuan masing-masing.
Melalui Tindak Ziarah #4, komunitas berharap semakin banyak orang menyadari pentingnya perjalanan rohani di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kenyamanan, tetapi juga dari perjuangan dan kebersamaan.
Para peserta pulang dengan tubuh lelah dan kaki pegal, tetapi hati yang terasa lebih tenang dan penuh semangat. Bahkan banyak peserta sudah menyatakan siap mengikuti Tindak Ziarah berikutnya.
“Perjalanan ini mungkin melelahkan tubuh, tetapi justru memeluk jiwa. Saya ingin ikut lagi,” ungkap salah satu peserta.(KS01)