SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo tak hanya identik dengan kue keranjang.
Salah satu makanan tradisional khas Solo yang selalu diburu jelang Imlek adalah kue moho, kudapan jadul yang memiliki tekstur lembut dan tampilan mirip bolu kukus mekar.
Kue moho menjadi pelengkap sesaji bagi umat Konghucu saat perayaan Imlek. Tak hanya itu, kue ini juga kerap digunakan dalam sembahyang leluhur masyarakat keturunan Tionghoa di Solo.
Menjelang Imlek, permintaan kue moho di sejumlah sentra kuliner tradisional Solo mengalami peningkatan. Kue berwarna cerah seperti merah muda, hijau, dan cokelat ini memiliki cita rasa manis dengan aroma khas hasil fermentasi tape singkong.
Salah satu warga Solo, Tri Sunanti, mengaku rutin membeli kue moho setiap menjelang Imlek.
“Kue moho selalu jadi pelengkap sesaji saat Imlek. Selain itu, juga untuk sembahyang leluhur,” ujarnya.
-
Tradisi penggunaan kue moho ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari kekayaan akulturasi budaya di Kota Bengawan.
Butuh Waktu 12 Jam
Meski terlihat sederhana, proses pembuatan kue moho membutuhkan waktu cukup panjang. Bahan utama kue ini terdiri dari tepung terigu, tape singkong, gula, dan soda kue.
Adonan tepung terigu dan tape singkong harus didiamkan selama kurang lebih 12 jam agar proses fermentasi berjalan sempurna. Setelah itu, pewarna makanan ditambahkan untuk memberikan variasi warna menarik pada kue.
Adonan kemudian dimasukkan ke dalam loyang dan dikukus selama sekitar 30 menit hingga mengembang, matang, dan bertekstur empuk.
Tekstur yang lembut dan rasa manis khas inilah yang membuat kue moho tetap diminati hingga sekarang.
-
Salah satu pedagang kue moho di kawasan Baluwarti Solo, Sri Murwatiningsih, mengungkapkan bahwa pesanan meningkat signifikan menjelang Imlek.
“Biasanya saya menghabiskan sekitar 20 kilogram tepung terigu per hari. Tapi jelang Imlek ini meningkat jadi sekitar 25 kilogram,” jelasnya.
Dalam sehari menjelang Imlek, Sri mampu memproduksi sekitar 300 hingga 400 buah kue moho. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, yakni Rp3.000 per buah.
Selain untuk keperluan sembahyang umat Konghucu, kue moho juga banyak diburu pencinta jajanan tradisional khas Solo yang ingin bernostalgia dengan cita rasa lawas.
Keberadaan kue moho menjadi bukti kekayaan kuliner tradisional Solo yang sarat nilai budaya dan sejarah. Jelang Imlek, jajanan ini tak hanya menjadi simbol pelengkap ritual, tetapi juga memperkuat harmoni budaya di Kota Surakarta.
Dengan harga terjangkau dan cita rasa khas, kue moho tetap bertahan di tengah gempuran jajanan modern, sekaligus menjadi bagian penting dari tradisi Imlek di Solo.(ks01)