Jumat, 12 Juni 2026

Fakta Bipolar Bukan Sekadar Mood Swing, Waspada Bahaya Self Diagnosis!

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 14 Agustus 2025 | 10:00 WIB
Fakta Bipolar Bukan Sekadar Mood Swing, Waspada Bahaya Self Diagnosis! (KlikSoloNews/dok)
Fakta Bipolar Bukan Sekadar Mood Swing, Waspada Bahaya Self Diagnosis! (KlikSoloNews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - FK UNS melalui FK UNS Talks membahas gangguan bipolar, gejalanya, hingga pentingnya diagnosis profesional untuk mencegah risiko kesehatan mental yang lebih serius.

Bipolar atau gangguan bipolar adalah penyakit mental yang menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari fase mania (sangat bahagia) hingga depresi (sangat sedih).

Penyakit ini memengaruhi suasana hati, energi, aktivitas, dan kemampuan penderitanya dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menyelenggarakan FK UNS Talks secara daring melalui kanal YouTube resmi FK UNS. Pada edisi kali ini, diskusi mengangkat tema kesehatan mental dengan fokus utama pada gangguan bipolar.

Acara dipandu dr Adinda Sekar Ayu, residen Psikiatri FK UNS, dan menghadirkan narasumber Dr Rohmaningtyas H.S., dr., Sp.KJ., M.Kes., selaku Kepala Program Studi Psikiatri FK UNS.

Memahami Fase Bipolar

Dalam paparannya, Dr Rohmaningtyas menjelaskan bipolar adalah gangguan suasana perasaan dengan dua fase ekstrem: depresi dan manik.

Fase depresi: penderita merasa sedih berlebihan, kehilangan energi, hingga muncul ide bunuh diri.

Fase manik: penderita justru bersemangat berlebihan, tidak membutuhkan tidur, dan kerap melakukan aktivitas impulsif.

“Diagnosis bipolar harus ditegakkan oleh tenaga profesional. Banyak yang melakukan self-diagnosis hanya karena merasa sedih atau terlalu senang sesaat, padahal diagnosis memerlukan kriteria waktu dan bukti penurunan fungsi peran,” tegasnya.

Penanganan Jangka Panjang dan Peran Keluarga

Bipolar termasuk gangguan kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang. Terapi meliputi psikofarmaka seperti mood stabilizer, serta psikoterapi seperti Cognitive Behavior Therapy (CBT) dan mindfulness.

“Dukungan keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi,” ujarnya.

Jika tidak ditangani dengan baik, bipolar dapat memicu perilaku impulsif, penyalahgunaan zat, bahkan ide bunuh diri. Karena itu, masyarakat diimbau untuk memahami pentingnya kesehatan mental, tidak melakukan self diagnosis, segera mencari bantuan profesional jika mengalami gejala.

Dr Rohmaningtyas menutup diskusi dengan pesan pengobatan teratur dan berkurangnya stigma akan meningkatkan kualitas hidup pasien bipolar.

Kegiatan ini sejalan dengan upaya pemenuhan Sustainable Development Goals (SDG) ke-3, yaitu mewujudkan kehidupan yang sehat dan sejahtera.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X