Jumat, 12 Juni 2026

Generasi Stroberi? Riset Ini Buktikan Gen Z Tak Bisa Disamaratakan

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 25 April 2025 | 16:17 WIB
Generasi Stroberi? Riset Ini Buktikan Gen Z Tak Bisa Disamaratakan. (KlikSoloNews/dok freepik)
Generasi Stroberi? Riset Ini Buktikan Gen Z Tak Bisa Disamaratakan. (KlikSoloNews/dok freepik)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset Censor dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar riset mendalam terkait persepsi lintas generasi terhadap Generasi Z.

Penelitian ini menyoroti fenomena stereotipe negatif yang kerap dilekatkan pada Gen Z, seperti dicap sebagai generasi yang malas, manja, dan kurang disiplin.

Label tersebut sejalan dengan istilah Generasi Stroberi, yang populer di sejumlah negara Asia—menggambarkan generasi yang cerdas dan menarik dari luar, namun dianggap rapuh saat menghadapi tekanan.

Kepala Divisi Riset Censor, Lia Dwi Lestari dari Program Studi Sosiologi, menyebut riset ini bertujuan memahami cara pandang generasi yang lebih senior terhadap Gen Z, baik di ranah akademik maupun keseharian.

“Kami juga ingin melihat seberapa besar pengaruh media dalam membentuk stereotipe yang melekat pada Gen Z. Ini penting agar kami bisa memahami konteks stereotipe tersebut secara lebih utuh,” ujar Lia.

Penelitian yang dipimpin, Aubry Fairuza Akifa Prabowo, mahasiswa Hubungan Internasional, menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam.

Narasumber berasal dari berbagai latar belakang di lingkungan FISIP UNS, mulai dari petugas keamanan, parkir, kantin, kebersihan, hingga akademisi dan tenaga kependidikan.

Kesenjangan Persepsi

Hasil awal riset menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman antar generasi. Informan dari generasi Baby Boomers, X, hingga Milenial, banyak yang menilai Gen Z sebagai pribadi yang lebih individualistis, terlalu bergantung pada teknologi, serta kurang memiliki etos kerja dibanding generasi sebelumnya.

Gaya hidup instan dan orientasi terhadap kepuasan jangka pendek juga dinilai memperkuat stereotipe negatif yang melekat.

Beberapa akademisi mencatat bahwa Gen Z lebih menuntut fleksibilitas dalam sistem belajar dan bekerja—hal yang belum sepenuhnya terfasilitasi.

Namun demikian, penilaian tidak semuanya negatif. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP UNS, Rino Ardhian Nugroho, justru menekankan potensi unggul yang dimiliki Gen Z.

“Gen Z memiliki keberanian, suka tantangan, serta berpegang pada nilai-nilai yang mereka yakini. Meskipun ada perbedaan karakter, mereka tetap bisa beradaptasi dan berkembang di berbagai bidang,” ujar Rino.

Salah satu tantangan lain yang ditemukan adalah perbedaan gaya komunikasi. Banyak istilah, singkatan, dan ekspresi khas Gen Z dinilai membingungkan oleh generasi sebelumnya. Sejumlah petugas parkir menyebutkan pentingnya peningkatan etika komunikasi dan tata krama dalam interaksi antar generasi.

Meski demikian, seluruh informan sepakat bahwa kolaborasi lintas generasi tetap memungkinkan. Dengan keunggulan Gen Z dalam teknologi digital, mereka dinilai punya potensi besar untuk menjadi penggerak dalam dunia akademik maupun profesional.

Sebagai tindak lanjut riset, UKM Riset Censor akan menyelenggarakan Seminar Censorfest 10.0 pada Sabtu, 26 April 2025, bertajuk “Stereotype Smashers: How Gen Z Confronts Stereotypes of the Strawberry Generation.”

Acara ini akan menjadi ruang dialog terbuka lintas generasi, membahas hasil riset sekaligus mendorong pemahaman yang lebih inklusif.

Diharapkan, kegiatan ini mampu menjadi titik temu berbagai pandangan dan menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat, terbuka, dan saling mendukung antargenerasi.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X