olahraga

Klasifikasi Atlet Indonesia di ASEAN Para Games 2025 Sesuai Rencana, Target Medali Tetap Terjaga

KS1
Senin, 19 Januari 2026 | 10:00 WIB
Proses Klasifikasi Sesuai Rencana Koordinator tim dokter kontingen Indonesia Retno Setianing (kanan) bersama pelatih para catur Budi Santosa mendampingi Atlet Para Catur Lilis Herna Yulia (di kursi roda) untuk menjalani tes klasifikasi ASEAN Para Games Thailand di Nakhon Ratchasima Rajabhaat University, Thailand, Minggu (18/01/2026). Proses klasifikasi berjalan sesuai dengan yang sudah direncanakan, kontingen Indonesia Optimistis target medali bisa tercapai. NPC Indonesia/Yoma Times Suryadi

NAKHON RATCHASIMA, KLIKSOLONEWS.COM – Proses klasifikasi atlet kontingen Indonesia menjelang ASEAN Para Games 2025 di Nakhon Ratchasima berjalan sesuai dengan skenario yang telah disiapkan. Hingga saat ini, seluruh atlet Indonesia dinyatakan masih memenuhi persyaratan untuk bertanding pada kategori masing-masing.


Koordinator tim dokter kontingen Indonesia, Retno Setianing, memastikan tahapan klasifikasi yang berlangsung selama dua hari terakhir berjalan lancar. Menurutnya, hasil tersebut tidak lepas dari persiapan matang yang telah dilakukan jauh sebelum keberangkatan ke Thailand.


“Sejauh ini masih sesuai dengan perkiraan kami. Jika atlet sudah ditempatkan di kelas tertentu, berarti target medali juga sudah diperhitungkan sejak awal,” ujar Retno saat ditemui di Auditorium Nakhon Ratchasima Rajabhat University, Minggu (18/1/2026).


Klasifikasi merupakan tahapan krusial dalam olahraga disabilitas karena menentukan kesetaraan antar atlet berdasarkan tingkat impairment atau hambatan yang dimiliki. Sistem ini bertujuan memastikan setiap atlet bertanding secara adil meskipun jenis disabilitasnya berbeda.


“Prinsipnya adalah kesetaraan. Atlet dengan hambatan berbeda bisa dipertandingkan bersama selama tingkat fungsinya setara. Inilah yang dijaga dalam proses klasifikasi,” jelas Retno.


Ia menambahkan, terdapat tiga kategori utama dalam klasifikasi, yakni physical impairment (PI/tunadaksa), visual impairment (VI/tunanetra), dan intellectual impairment (II/tunagrahita). Masing-masing kategori memiliki klasifikasi lanjutan yang lebih spesifik sesuai cabang olahraga.


Selama proses tersebut, tim medis Indonesia turut mendampingi beberapa atlet yang membutuhkan pengawalan khusus. Pendampingan ini penting untuk memastikan asesmen berjalan sesuai standar dan tidak merugikan atlet.


“Tidak semua atlet perlu pendampingan, tetapi untuk cabang tertentu seperti para catur, ada atlet yang memang harus kami kawal secara langsung,” kata Retno.


Ia menegaskan, keberhasilan lolos klasifikasi menjadi kunci agar atlet dapat tampil dan berjuang meraih medali. Perubahan kelas atau status non-eligible berpotensi menggugurkan peluang atlet meski telah lolos seleksi sebelumnya.


Sementara itu, Koordinator Pelatih Tim Para Catur Indonesia, Tedy Wiharto, menyambut positif hasil klasifikasi yang telah dilalui. Dua atlet para catur Indonesia, Fajar Alamsyah dan Lilis Herna Yulia, dipastikan lolos klasifikasi pada kategori tunadaksa.


“Untuk hari ini, proses klasifikasi berjalan baik dan atlet yang kami ajukan semuanya lolos,” ujar Tedy.


Ia menyebutkan, atlet para catur Indonesia yang masuk kategori tunanetra masih akan menjalani klasifikasi terakhir yang dijadwalkan pada Senin (19/1/2026).


Dengan hasil tersebut, Tedy optimistis tim para catur Indonesia yang menurunkan 18 atlet mampu mencapai target perolehan 12 medali emas, enam perak, dan empat perunggu. Target tersebut membuka peluang Indonesia menjadi juara umum di cabang para catur.


“Pesaing terkuat kami ada Filipina untuk tunadaksa dan Vietnam di kategori tunanetra. Namun kami tetap optimistis,” tegasnya.

Halaman:

Tags

Terkini