NAKHON RATCHASIMA, KLIKSOLONEWS.COM – Kisah inspiratif datang dari arena ASEAN Para Games 2025. Seorang atlet penyandang disabilitas asal Kabupaten Semarang, Eliana, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan dan kesulitan hidup bukan penghalang untuk meraih prestasi tertinggi di level internasional.
Tak pernah terbayang dalam benaknya, Eliana yang dulu bekerja sebagai buruh cuci dengan bayaran tak menentu, kini berdiri di podium tertinggi sambil mengibarkan bendera Merah Putih di ajang olahraga disabilitas terbesar Asia Tenggara.
Pada Rabu (21/1/2026), Eliana mencatatkan kejutan manis dengan meraih medali emas cabang olahraga para angkat berat. Atlet debutan ini tampil gemilang di kelas 41 kilogram putri dengan angkatan terbaik 78 kilogram, mengalahkan juara bertahan asal Filipina, Marydol Pamatian.
Keberhasilan Eliana benar-benar di luar perkiraan, bahkan bagi tim pelatih para angkat berat Indonesia. Pasalnya, ini merupakan kali pertama Eliana tampil di ajang internasional.
“Ini di luar ekspektasi. Saya sendiri tidak pernah menyangka bisa langsung dapat emas di ASEAN Para Games,” ungkap Eliana.
Perjalanan Eliana menuju panggung internasional tidaklah instan. Perempuan kelahiran 25 Juli 1997 ini berasal dari Desa Deresan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Ia sempat mencicipi prestasi dengan meraih emas pada Kejurnas Para Atletik 2019 di Solo, namun setelah itu memilih vakum dari dunia olahraga.
Pernah Jadi Buruh Cuci Dibayar Rp25 Ribu
Setelah berhenti berlatih, Eliana menjalani kehidupan sederhana. Ia bekerja sebagai buruh cuci baju di lingkungan sekitar rumahnya. Upah yang diterima pun tidak menentu.
“Saya tidak pernah mematok bayaran. Pernah dibayar Rp25 ribu, kadang juga lebih dari Rp100 ribu, tergantung yang memberi,” ujar Eliana, Jumat (23/1/2026).
Selain itu, Eliana juga memiliki keahlian membatik. Ia sempat mengajar batik tulis di Pondok Pesantren Bina Insani, Susukan, sebelum akhirnya kembali ditarik ke dunia olahraga pada 2023.
Titik balik Eliana terjadi saat Ketua NPCI Salatiga mengajaknya kembali berlatih, namun kali ini di cabang para angkat berat. Awalnya, Eliana ragu karena minimnya referensi atlet angkat berat dengan perawakan pendek.
Namun keyakinannya tumbuh setelah ia menyabet dua medali emas Peparprov Jawa Tengah 2023 dan medali perunggu Peparnas 2024.
“Dari situ saya yakin dan fokus jadi atlet. Dari segi finansial juga lebih menjanjikan dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya,” tuturnya.
Pada laga final yang digelar di Convention Hall, Center Point Hotel, Eliana mengaku sempat merasa gugup. Pasalnya, para pesaingnya merupakan atlet berpengalaman.
Namun berbekal arahan pelatih serta dukungan keluarga dan orang-orang terdekat, Eliana mampu mengatasi tekanan dan tampil optimal.
“Alhamdulillah lombanya berjalan lancar. Emas ini saya persembahkan untuk masyarakat Indonesia, keluarga, dan semua yang sudah mendukung saya,” ucapnya penuh haru.
Masuk Proyeksi Asian Para Games 2026
Prestasi Eliana di ASEAN Para Games 2025 menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar. Ia kini masuk proyeksi tim nasional para angkat berat Indonesia untuk Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang.
Pelatih tim para angkat berat Indonesia, Coni Ruswanta, menilai Eliana sebagai atlet dengan perkembangan signifikan sejak pertama kali ditemukan di Peparprov Jateng 2023.
“Eliana disiplin, pekerja keras, dan selalu menyelesaikan semua porsi latihan tanpa banyak mengeluh. Ini buah dari kerja kerasnya,” kata Coni.
Ia berharap Eliana bisa terus meningkatkan performa dan lolos ke Asian Para Games 2026, mengingat ASEAN Para Games 2025 juga menjadi bagian dari proses kualifikasi.(KS01)